Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Daniel Setiawan

Segala Sesuatu Ada Masanya, Ikhlas dalam Menjalaninya disertai dengan Pengucapan Syukur.

Permainan Jokowi-Ahok

OPINI | 01 August 2013 | 14:08 Dibaca: 3811   Komentar: 27   2

Tipe Ahok yang temperamental sudah dikenal orang banyak. Bicaranya yang ceplas-ceplos tak sedikit yang membuat sebagian orang tersinggung. Seperti baru-baru ini statemen Ahok tentang PKL di Tanah Abang membuat sebagian masyarakat Jakarta tersinggung dengan ucapannya.

Sosok Jokowi yang jawani. Bicaranya yang santun, selalu tersenyum dan lebih mengutamakan dialog juga sudah diketahui orang banyak. Seperti baru-baru ini, Jokowi sidak di Pasar Minggu yang mendapati PKL kembali berjualan di tepi-tepi jalan. Tapi, Jokowi tidak mencak-mencak kepada PKL yang jualan, dan juga kepada anggota satpol PP yang hanya duduk-duduk melihat para PKL berjualan. Dengan kalem Jokowi hanya mengatakan,”saya kecewa.”  tanpa turun dari mobilnya.

Dua karakter yang berbeda. Yang satu panas, emosian. Yang satu kalem, menenangkan. Kenapa mereka bisa klop berpasangan menjadi DKI1 dan DKI2? Bukankah secara karakter mereka berbeda? Tapi banyak orang mengatakan bahwa inilah pasangan gubernur dan wakil gubernur yang paling cocok dan serasi. Saling melengkapi.

Tapi menurut saya, apa yang dilakukan oleh Ahok selama ini bukanlah sesuatu yang tidak direncanakan. Gaya Ahok yang bicara blak-blakan, bukanlah malah menjatuhkan pamor sang gubernur. Dan bukan pula tidak ada keserasian antara gubernur dan wakil gubernur. Malah mereka saling melengkapi. Kenapa?

Ahok selalu mengatakan, Dia adalah polisi jahatnya gubernur. Mengapa Ahok berkata demikian, saya kira itu memang peran Ahok dalam pemerintahan DKI Jakarta ini. Ahok selalu berperan menjadi bad guy, mengeluarkan statemen-statemen yang memerahkan telinga. Membuat orang-orang yang disentilnya menjadi uring-uringan. Tersinggung dan marah kepada Ahok. Kalau sudah demikian, maka tugas Jokowilah yang akan menyelesaikannya. Jokowi bertindak sebagai good guy, yang melakukan pendekatan kepada mereka yang tersinggung. Mereka mengadukan segala keluh kesah mereka kepada Jokowi. Jokowi pun mendengarkan mereka, apa yang mereka inginkan didengarkan oleh Jokowi. Jokowi pun merangkul mereka. Karena mereka menganggap Jokowi lebih peduli kepada mereka, maka apa yang dikatakan oleh Jokowi pun mereka turuti.

Artinya, Ibarat permainan sepak bola. Ahok melakukan umpan yang cantik dan Jokowi menyelesaikannya dengan sempurna. Mari kita telaah Kasus PKL Tanah Abang. Ahok mengeluarkan statemen yang menyinggung PKL Tanah Abang sehingga berujung Ahok didemo oleh Rajjam Ahok. Ahok telah membangunkan macan tidur di Tanah Abang. Macan-macannya yang selama ini bersembunyi dengan tenang akhirnya turun gunung. Mereka menyerang Ahok. Ketika mereka menyerang Ahok, Jokowi pun menyerang langsung ke Tanah Abang berdialog dengan PKL di sana. Hasilnya, banyak PKL yang akhirnya mau direlokasi ke blok G Tanah Abang. Kenapa para PKL mau direlokasi ke blok G? Karena mereka menganggap Jokowi lebih perhatian kepada mereka, lebih mengayomi mereka daripada Ahok. Coba seandainya Ahok diam seribu basa, dan menyerahkan semuanya kepada Jokowi. Apakah Jokowi akan mendapatkan hasil yang maksimal? Saya kira, Jokowi akan tetap mendapat tentangan dari para PKL Tanah Abang.

Dengan bermain sebagai bad guy dan good guy, maka kemenangan pun diraih mereka berdua.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kiprah Ibu-ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | | 27 November 2014 | 07:38

Jakarta Street Food Festival: Ketika Kuliner …

Sutiono | | 27 November 2014 | 11:06

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 4 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 6 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 7 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Dipertanyakan Molornya Pembangunan Dermaga …

Mahaji Noesa | 8 jam lalu

Malunya Tuh Disini (Tepok Jidat) …

Atin Inayatin | 8 jam lalu

Abdi Negara dan Gaya Hidup Sederhana …

Dhita Mona | 8 jam lalu

Kau, Aku, Angin …

Wahyu Saptorini Ber... | 8 jam lalu

Wisata Alam Sejarah Klasik Goa Selomangleng …

Siwi Sang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: