Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Perbedaan Jokowi dan Pak De Karwo

OPINI | 19 July 2013 | 10:34 Dibaca: 1047   Komentar: 10   1

Joko Widodo menjabat Gubenur Jakarta dan Pak De Karwo menjabat Gubenur di Jawa Timur.
Joko Widodo berlatar belakang pengusaha selalu lugas dan ingin cepat-cepat dalam bekerja. Memang itu ciri khas seorang pedagang. Kalah cepet rejeki di jupuk uwong( Kalah cepat rejeki di ambil orang.) Sedang semboyan barat mengatakan, “Time Is Money”, waktu adalah uang. Dalam segala hal, tampaknya ia mau menerapkan budaya cepat, terutama dalam mengambil kebijakan. Mungkin ini sudah watak dari seorang pengusaha, Jusuf Kallapun yang berlatar belakang seorang pengusaha ketika menjabat sebagai wakil presiden, bercerita pernah memutuskan proyek bernilai trilyunan hanya dalam waktu 5 menit.Kembali ke Jokowi, Proyek Monorel dan MRT yang mangkrak selama 6 tahun gak kunjung di mulai, setelah ia menjabat belum genap sepuluh bulan ia sudah memutuskan untuk segera di mulai. Ada lagi, penyakit banjir waduk pluit, yang terjadi pendangkalan segera secara masal di keruk, sementara pemukiman kumuh di relokasi. Dan ciri khas dari Jokowi adalah blusukan. Yang membuat pejabat-pejabat malas di bawahnya terasa mual dan gerah. Sudah menjadi rahasia umum, jika birokrasi Indonesia terkenal mbulet. Dan lagi, ia mau turun kelapangan, menganalisa langsung permasalahan yang terjadi. Seperti saat ia meninjau saluran air, kenapa banjir selalu terjadi di saat musim hujan.
Ia turun langsung ke saluran air tanpa takut kotor. Di situ tak ada acara penyambutan dan protokoler. Memang begitu gayanya. Tak butuh acara penyambutan, atau pawai drumband. Karena itu akan menjauhkan dari substansi permasalahan di lapangan. Dengan gayanya, ia sudah terbukti masuk 10 besar walikota terbaik sejagat, saat menjabat di Solo. Ini bukanya main-main. Karena di teliti dari walikota-walikota di atas bumi. Dan bukanya, kelas emprit tentunya.

Berbeda dengan Pak De Karwo.

Yang berlatar belakang seorang birokrat. Saat blusukan ke Pamekasan desa Pakong. Dalam acara melestarikan sumber mata air dan pengukuhan Da’i dan Daiyah. Sebelum menginjakan kaki dari atas mobil. Suara drum band sudah menggelegar. Murid-murid SMP di kerahkan di pinggir jalan. Kesenian dan tari, ciri khas Pamekasan di gelar dan para tokoh pemuda di siapkan di pinggir jalan. Sementara Bupati dan pejabat lain tak kalah sibuk.
Menuju tempat acara, Sambil jalan tak sedikit yang minta salaman dan cium tangan. Memasuki tempat acara, terop kerodong kain ukuran besar. Di dalam sudah berkumpul para undangan dengan pakaian terbaik. Ini kelihatan dari para undangan yang sungguh semua tampak cantik-cantik dan ganteng.( Gak onok sing elek nyepres). Demi acara menyambut Sang Gubenur.

Acara di mulai, sambutan-sambutan di atas podium. Tampak duduk di kursi kehormatan Pak De bersungut-sungut saat di bacakan bantuan-bantuan yang di komandoi oleh Gubenur. Sementara Hadirin undangan mendengar dengan seksama. Tak ada yang bertanya. Uang itu berasal darimana. Apakah dari pajak masyarakat Pamekasan juga. Bukankah memang seharusnya dan kewajibanya untuk mengembalikan kepada masyarakat.
Dan dengan meriahnya penyambutan Drumband, Tari dan kesenian budaya, pemasangan tempat acara yang begitu besar, darimanakah anggaranya.
Jika dari APBD, relakah masyarakat menerima laporan, yang di dalamnya tertera untuk menggelar kesenian, menyewa tempat acara dan pagelaran budaya dalam rangka penyambutan Gubenur. Sedangkan di kantor desa dan kantor pos masyarakat miskin masih mengantri uang BLSM, sampai ada yang pingsan.(Jika begini, apa beda dengan pejabat saat jaman kolonial dulu. Saat berkunjung selalu ada pawai, ada pagelaran yang meriah, sementara mayarakat miskin di pinggiran semua keluar hanya untuk menonton para pejabat berpesta dan menari)

Mengunjungi Sumber air. Dengan masih berprotokoler, di gelar payung di belakang.(Ajudan payung) Pak De berjalan menuju penanaman pohon langka, Stigi. Dan ironi sekali saat acara penanaman. Kaleng berisi air untuk menyiram mau tumpah, melihat itu banyak yang berebut, agar tidak sampai tumpah. Penanaman dan penyiraman di lakukan. Pak De Juga menyiram tangan dan sepatu, karena kotor terkena tanah.

Inilah perbedaan Jokowi dan Pak De Karwo. Memang betul kata Gus Ipul. “Jokowi belum terbukti, dan Pak De Karwo sudah terbukti”. Silahkan pembaca artikan sendiri pernyataan Gus Ipul itu, Yang terbukti apanya. Seperti orang yang bertanya dan di jawab. Lumayanlah…..!. Yang betul saja, lumayan baik atau lumayan buruk.

Salam Kompasiana

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 16 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 18 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 19 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 20 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 25 October 2014 08:22


HIGHLIGHT

Selamatkan Kawasan Ekosistem Leuser Aceh …

Nur Terbit | 9 jam lalu

Terinspirasi = Plagiat ? …

Aqsa Intan Pratiwi | 9 jam lalu

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Kontroversi Pengangkatan Menteri oleh …

Edward Pakpahan | 9 jam lalu

Pesta Raffi Ahmad dan Bakiak Lady Gaga …

Ifani | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: