Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Joko Siswonov

i am antiteori .....

Akankah Jokowi Lengser Seperti Gusdur

OPINI | 11 July 2013 | 12:58 Dibaca: 952   Komentar: 7   0

Masih ingat dengan alm.Gusdur mantan presiden ke 4 RI, yang melambaikan tangannya di depan istana, sebagai tanda protest terhadap anggota DPR yang memecatnya atau sebagai tanda perpisahan kepada rakyat sebagai akhir dari pemerintahan beliau. Bercelana pendek beliau saat itu.

Pemimpin jujur yang hendak membuat perubahan pada bangsa ini. Yang hendak membuat beberapa perubahan-perubahan aturan negara yang akan membuat negara ini lebih baik. Seperti hendak membuat UU hukum pembuktian terbalik. Hendak membuat ruang tindak korupsi di pejabat negara berkurang. Hendak membuat terobosan-terobosan perundangan yang menguntungkan bagi rakyat.

Sebelum Gusdur melakukannya, beliau kalah langkah dengan anggota DPR RI. Hampir semua anggota DPR RI, termasuk beberapa anggota DPR dari PKB yang mengusung beliau, bersepakat hendak memecat beliau. Mereka pikir, “Bahaya ni kalau tidak dipecat, bisnis kita bisa susah nih, fee berbagai proyek susah dapat.”

Maka atas memaslahatan bersama, atas kepentingan bersama, atas keuntungan bersama, mereka para anggota DPR RI sepakat memecat Gusdur. Ini mirip dengan yang terjadi di Mesir. Kudeta resmi. Seandainya Gusdur memimpin selama 5 tahun, mungkin kita tidak akan kenal dengan politikus-politikus sekarang seperti Ramadhan Pohan, Edy Baskoro, Ruhut Sitompul, Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh, Adji Massaid. Sekarang kita tengok Jokowi-Ahok, dimana terobosan-terobosan kebijaksanaan Jokowi-Ahok dikatakan banyak memihak rakyat. Tindakan-tindakan peduli rakyat yang mau langsung turun ke bawah, menemui masyarakat hendak mengetahui langsung keinginan rakyat. Pemimpin yang katanya jujur, merakyat dan transparan.

Secara tidak langsung, tindakan Jokowi-Ahok membuat ruang lingkup anggota DPRD Jakarta susah bergerak untuk korupsi. Beberapa kontrak-kontrak perusahaan yang akan membuat keuntungan anggota dewan tersebut untuk memperoleh FEE akan terawasi. Anggota DPRD Jakarta susah cari luaran. Susah menggunakan jabatan mereka untuk korupsi.

Kalau semua anggota DPRD Jakarta berpikir seperti Anggota DPR RI saat pemerintahan Gusdur “Bahaya ni Jokowi-Ahok kita susah dapat daging, mari kita satukan pendapat, satukan keinginan, satukan kekuatan, kita pecat mereka berdua.” Terbukti kan sudah mereka hendak melengserkan Jokowi-Ahok tentang KJS, ada 32 anggota DPRD Jakarta yang telah menggunakan hak interpelasinya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 6 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 11 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 12 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 14 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengaruh Millieu Cas, Cis, Cus Inggris-Ria, …

Imam Muhayat | 8 jam lalu

Aku Pelari, Maka Aku Trendi …

Vita Sophia Dini | 8 jam lalu

Akankah El Clasico Ke 230 Menggenapkan …

Nino Histiraludin | 8 jam lalu

Kerja Perdana: Jadi Perawat Klinik di Banda …

Rinta Wulandari | 8 jam lalu

Intip Buku Kedua, Minggu, 26 Oktober 2014 …

Wijaya Kusumah | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: