Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Palti Hutabarat

Hanya ingin berbagi reportase dan opini. Semoga bermanfaat bagi semua kompasianer. Staf Perkantas Riau. Inisiator Jaringan selengkapnya

Akhirnya SBY Menerima Penghargaan yang Tidak Pantas Diterimanya

OPINI | 31 May 2013 | 14:41 Dibaca: 292   Komentar: 10   0

Akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima World Statesman Award yang dilangsungkan di Hotel Pierre, New York. Penghargaan itu diserahkan oleh Rabbi Arthur Scheneier dalam sebuah acara makan malam. Hadir juga mantan Menlu AS yang juga tokoh hubungan internasional Dr Henry Kissinger. Presiden didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono, Menlu Marty Natalegawa, Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal dan Mensesneg Sudi Silalahi.

Dalam pidato penerimaannya SBY menegaskan, Pemerintah
Indonesia bersama seluruh komponen bangsa
lainnya terus mengembangkan kehidupan
berbangsa, termasuk mencegah perilaku tidak
toleran dan menegakkan hukum bila ada
tindakan tersebut.

“Proses demokrasi masih terus berkembang dan
konsistensi sebagai sebuah negara merdeka
masih diuji. Mengembangkan perdamaian,
ketertiban, dan harmoni merupakan sesuatu
yang tidak bisa terjadi begitu saja,” kata Presiden
dalam acara penyerahan penghargaan World
Statesman Award di New York, Kamis (30/5/2013)
malam waktu setempat atau Jumat (31/5/2013)
pagi waktu Jakarta.

Dalam pidatonya, SBY kembali mengucapkan sebuah janji yang selalu diucapkannya tanpa jelas apakah bisa atau mampu dikerjakannya.

“Kami tidak akan menoleransi setiap tindakan
kekerasan oleh kelompok yang
mengatasnamakan agama. Kami juga tidak akan
membiarkan penodaan tempat ibadah agama apa
pun untuk alasan apa pun. Kami juga akan
melindungi minoritas dan memastikan tidak ada
yang mengalami diskriminasi. Kami juga akan
memastikan siapa pun yang melanggar hak yang
dimiliki kelompok lain akan menghadapi proses
hukum,” kata Presiden (kompas.com).

Sebagai rakyat Indonesia yang tidak pernah absen melihat dan mendengar apa saja yang dilakukan SBY, saya merasa tidak yakin apa yang diucapkannya itu akan dilakukannya. Setidaknya, dari beberapa kejadian yang ada, aparat keamanan merasa tidak mampu melindungi kaum minoritas. Bahkan parahnya kaum minoritas malah disuruh pindah dari kampung halamannya.

Lalu apakah sanksi keras yang diberikan oleh pemerintah terhadap ormas yang memobilitasi kekerasan atas nama agama?? TIDAK ADA!!! Malah mereka bisa begitu bebasnya datang dan pergi untuk menghancurkan apapun yang mereka sukai.

Lalu apakah setelah melihat fakta yang terjadi di negara ini beberapa bulan dan beberapa tahun ke belakang membuat kita bisa yakin SBY melindungi minoritas?? Sangat jauh dan sangat memprihatinkan. SBY yang terkenal dengan janji-janjinya tidak akan mungkin merealisasi janji tersebut karena pada kejadian-kejadian sebelumnya pun dia tidak melakukannya.

SBY tidak pantas menerima penghargaan tersebut. Karena SBY pada era pemerintahannya gagal melindungi kaum minoritas. Bahkan ormas perusak toleransi bisa berkembang biak di negeri ini.

Cukuplah SBY dengan janji-janji normatifmu itu. Orang luar negeri mungkin terkesan dengan pernyataanmu, tetapi kami tidak bodoh. Negara selalu absen jika minoritas dianiaya. Coba kau lihat pengungsi syiah yang Warga Negara Indonesia yang haknya dirampas. Coba kau lihat di depan istanamu orang beribadah karena tempatnya disegel dan dirusak.

Seharusnya engkau malu atas penghargaan yang kau terima tanpa ada yang engkau perbuat. Gelar negarawan tidak pantas diberikan kepada seseorang yang tidak melindungi rakyatnya, meski dia adalah kaum minoritas.

Salam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Sebenarnya, Berapa Sih Jumlah Caleg Gagal di …

Politik 14 | | 23 April 2014 | 14:46

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotman Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 20 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 22 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 22 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 23 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 23 April 2014 07:15

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: