Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Juragan Minyak

Warganegara biasa, tinggal di Jakarta "Kota Sejuta Knalpot Berisik Orang-orang Nyentrik Akibat Sirik". Awalnya kusedot selengkapnya

Geng Motor di Jakarta Dipelihara

HL | 17 May 2013 | 07:32 Dibaca: 1151   Komentar: 10   0

Sumber: Kompas.com

Sumber: Kompas.com

Penindakan terhadap para anggota geng motor di Pekanbaru menghiasi media massa cetak dan elektronik. Berita itu menggembirakan masyarakat yang sudah sejak lama menantikan penindakan nyata. Bukan basa-basi. Setitik harapan muncul. Bak gayung bersambut, kepolisian di daerah lain pun mengikuti koleganya di daerah Sumatera itu. Di Makassar, sekan tak mau kalah. Ancaman tembak di tempat ditebar.

Geng motor telah menjadi akronim yang berkonotasi kekerasan dan kejahatan. Sejatinya bukan geng motornya yang seharusnya diburu. Tetapi perilaku geng motor yang perlu ditumpas. Rupanya kepolisian lebih mementingkan cap daripada isinya. Atau mungkin saja, semua yang berbusana geng motor  berperilaku geng motor.

Perilaku geng motor mudah dijumpai di setiap sudut kota Jakarta. Tetapi karena mereka tak menyebut sebagai geng motor, kepolisian Polda Metro seperti mendapat alasan untuk membiarkan perilaku geng motor berkembang sejak kaki pengendara motor belum mampu menyentuh tanah.

Padahal, kantor kepolisian di wilayah Polda Metro tidak saja tersebar hingga ke setiap kecamatan berupa kantor-kantor Polsek. Polda Metro memiliki kemewahan karena memiliki aparat hingga ke kantor sub-Polsek. Dengan sebaran yang sedemikian luas, sungguh sangat mengherankan perilaku geng motor dibiarkan tumbuh dan berkembang di mana pun ada jalan yang bisa dilalui motor.

Perilaku geng motor mudah dikenali. Lihat saja knalpotnya yang tak berpenyaring. Mereka  meneror lingkungannya dengan cara menarik-narik tali gas. Arogansinya ditunjukkan dengan beperilaku yang melanggar aturan. Semakin mereka bisa menunjukkan tindakan melanggar aturan, mereka semakin bangga.

Beberapa dari mereka, perilakunya berakibat fatal. Kecelakaan. Fatal karena mengakibatkan orang lain celaka. Sampai saat ini tak pernah sekali pun kepolisian Polda Metro menuntut tanggung jawab orang tua dari pengendara di bawah umur. Padahal seharusnya orang tua wajib mengawasi anak-anaknya. Lalai mengawasi saja seharusnya memikul tanggung jawab hukum anak-anaknya. Apalagi menyuruh, atau bahkan turut berrbangga anak-anaknya berperilaku geng motor.

Perilaku geng motor mudah dijumpai pada anak-anak muda tanggung yang masih sekolah SMP dan SMA. Pencarian identitas. Cilakanya, pihak sekolah seperti tak mau ambil pusing dengan perilaku geng motor terhadap anak-anak didiknya. Bila sekolah mau bekerja sedikit lebih banyak dari sekedar mengajar rumus-rumus, penularan penyakit mental geng motor semestinya dapat ditekan.

Dan yang paling parah, Guernur DKI yang sering muncul di media massa menjajikan pembangunan masyarakat sosial juga sama sekali tak memiliki sensitivitas. Entahlah apa kesibukan beliau hingga tak sempat mengetahui penyebaran bibit penyakit mental di masyarakat. Berita-berita penindakan geng motor di media massa lokal dan nasional seakan tak terdengar di telinga beliau-beliau.

Gubernur sebagai kepala wilayah sebenarnya memiliki kewenangan mengkoordinasikan penegakan ketertiban dan ketenteraman di wilayahnya. Gubernur juga memiliki jaringan hingga ke tingkat kelurahan yang bila dimanfaatkan akan efektif mendeteksi gejala-gejala perilaku geng motor di setiaprumah. Gubernur juga memiliki kaki tangan di semua sekolah melalui Dinas Pendidikan.

Tetapi itu semua tak dilakukan di Jakarta, di ibu kota negara. Ironis, geng motor di kejar-kejar di daerah, tetapi justru dipelihara di Jakarta. Parah!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Manusia Api …

Nanang Diyanto | | 19 September 2014 | 17:32

Ketika Institusi Pendidikan Jadi Ladang …

Muhammad | | 19 September 2014 | 17:46

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Imbangi Valencia B, Indra Sjafrie Malah …

Djarwopapua | | 19 September 2014 | 14:17

Dicari: “Host” untuk …

Kompasiana | | 12 September 2014 | 16:01


TRENDING ARTICLES

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 6 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 9 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

“Calon Ibu Pejabat Galau di Negeri …

Rietsy | 8 jam lalu

Centang Prenong …

Rifki Hardian | 8 jam lalu

Duka Lara …

Rifki Hardian | 8 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Taman Rekreasi Atau Kuburan? …

Rifqi Nur Fauzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: