Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Ajinatha

Kaum Proletar buruh para Kapitalis yang kebetulan saja hobby menulis..

[Catatan] Demokrasi Abal-abal

REP | 11 May 2013 | 08:20 Dibaca: 232   Komentar: 7   2

illustrasi : www.beritaazam.com

illustrasi : www.beritaazam.com

Demokrasi Abal-abal sebuah Catatan

Betapa semrawutnya negeri ini, negeri yang memiliki Pemerintahan namun terkesan tidak “terpimpin.” Kedok Demokrasi hanya untuk berbuat sesuka hati, membiarkan imprealisme dalam kedok investasi, yang pada akhirnya hanya memperkecil hak dan kedaulatan masyarakat pribumi. Lihat saja lahan-lahan dijual atas nama kekuasaan dan kesenangan pribadi para penguasa dinegeri ini.

Kesetaraan hidup yang semakin senjang, yang senang semakin senang dan yanh susah pun semakin meradang. Atas nama demokrasi setiap orang semakin bisa berbuat sesuka hati, pembunuhan dan korupsi menjadi santapan berita sehari-hari, sementara pemimpin terus mengagungkan pertumbuhan ekonomi yang sudah menghirup darah kemiskinan yang smakin menjadi.

Adakah pantas kita berbangga dengan pertumbuhan ekonomi, sementara maraknya investasi hanya menguntungkan para kapitalis, kesejahteraan hanya menjadi milik kaum berpunya dan pemegang kebijakan. Bukankah seharusnya semakin banyak investasi semakin banyak pula yang tersejahterakan.

Betapa miris dalam alam demokrasi sekarang ini, para koruptor pun mendapat perhatian khusus dari para aparat hukum, mendapat perlakuan khusus bisa ada diluar penjara dengan seenaknya, sama halnya dengan para gembong narkoba yang bis mengedarkan narkoba dari dalam penjara. Hukum yang mati suri namun bisa bertindak kejam terhadap rakyat tak berpunya. Inikah Demokrasi ?

Membunuh sudah menjadi sesuatu hal yang biasa, apalagi kalau yang melakukanny adalah aparat negara. Betapa semrawutnya negeri ini, seperti semrawutnya lalu lintas dijalanan, melawan arus tidak lagi dianggap pelanggaran. Melawan hukum bagi yang memiliki kekuasaan bukanlah pelanggaran, sementara hukum bisa tegas terhadap jelata tanpa bisa melawan.

Benarlah kita sedang ada dalam era demokrasi abal-abal, demokrasi yang hanya sekedar diteriakkan tanpa pernah benar diimplementasikan. Pemimpin bersuka cita, maka rakyat pun berduka cita, inikah demokrasi yang kita agungkan, seperti inikah yang kita cita-citakan.?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 11 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 8 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Ditunggu Kehadiran Buku Berkualiatas Untuk …

Thamrin Dahlan | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: