Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Ay_satriya Tinarbuka

Mahasiswa abadi jurusan Filsafat Sastra Mesin di kampus kehidupan ... :D

Jokowi dan Bukti Konspirasi Bank Dunia?

OPINI | 05 April 2013 | 04:06 Dibaca: 1309   Komentar: 0   1

Membaca berita tentang Jokowi pengen menolak pinjaman dari Bank Dunia, hati ini langsung sumringah dan di dalam benak teringat tulisan berjudul “IMF dan Wapres: Jangan Bodohi Kami Lagi Ya!

Saya tidak anti-pati pada pinjaman dari lembaga keuangan internasional (IMF dan Bank Dunia/World Bank). Hanya saja, kita harus mampu memilih jenis pinjaman yang paling banyak memberikan manfaat, dan juga mampu mengelola pinjaman agar benar-benar bermanfaat. Jika kita mengambil pinjaman yang kemanfaatannya kecil trus masih dikorupsi pula, bagemana jadinya?

Penolakan Jokowi dan Ahok pada pinjaman Bank Dunia sepertinya membuka kedok konspirasi lembaga keuangan internasional. Pemerintah DKI ditekan dan didikte oleh Bank Dunia kalo mau dapet pinjaman. Seakan-akan Bank Dunia lebih tahu tentang Jakarta dibanding Jokowi dan Ahok. Padahal saya tidak yakin kalo petinggi Bank Dunia pernah berdesak-desakan di dalam metromini kayak Jokowi …

Mungkin Bank Dunia tidak bermaksud melakukan konspirasi untuk menjebak Indonesia dalam belitan hutang, Bank Dunia hanya menerapkan standar yang terlalu tinggi untuk pengelolaan utang. Tapi apapun maksud Bank Dunia, yang penting jangan sampai kita terjembab dalam jebakan hutang.

Agar lolos dari jebakan hutang, kita perlu menempatkan pembahasan tentang “teori konspirasi” ┬ápada tempatnya. Pembahasan teori konspirasi akan membuat kita lebih waspada dalam menerima tawaran dari berbagai lembaga asing. Jika kita bahas pada tempatnya, maka kita bisa merancang strategy pengelolaan penawaran agar memberikan manfaat maksimal tanpa merugikan ┬ápihak lain.

Eh, kok saya merasa percuma menulis artikel ini di kompasiana yah … Beberapa waktu lalu, ada kompasianer menuliskan tentang John Perkins, seorang economic hitman yang berhasil membuat Indonesia gemar berhutang. Tulisannya terlalu bombastis memang, saya pun segera login untuk kasih komentar agar pembahasan jebakan utang bisa proporsional. Tapi ternyata tulisan itu sudah dihapus admin. Jadi saya curiga, jangan-jangan Admin Kompasiana adalah antek lembaga keuangan global, hehehe …. pisss Bung Ngademin ….

Jadi, daripada menulis dengan perasaan bahwa tulisan ini bakal dihapus admin, maka saya cukupkan sekian saja …

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: