Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Pakde Kartono

Sayang istri, sayang anak, makanya disayang Allah

Surat Terbuka untuk SBY, Ayahku Koruptor, tapi Bukan Binatang

HL | 17 March 2013 | 09:01 Dibaca: 4426   Komentar: 103   7

1363488483949017874

napi korupsi diborgol dan disatukan dgn tali dipertontonkan ke media dan orang2 di stasiun kereta

Sewaktu seminggu kemarin tugas ke Jakarta, saya mendapat titipan surat dari sopir kantor yang mengantar saya kesana kemari selama di Jakarta, ia bingung bagaimana mengirimkan surat kepada presiden SBY tersebut, dan tidak yakin apakah presiden SBY akan membaca surat dari rakyat kecil seperti dirinya, akhirnya saya menyarankan dimuat disurat pembaca saja di harian surat kabar misal Kompas, Media Indonesia, pos kota dll atau dimuat saja dimedia sosial seperti Facebook, twitter, kaskus, kompasiana dll.

Setelah menimbang-nimbang, bahwa jika dikirim ke surat kabar harian, selain tidak jelas kapan dimuatnya, juga belum tentu orang baca pada saat koran tersebut terbit, akhirnya ia memilih dimuat saja di Kompasiana, karena ia tak punya akun di sini, maka ia memohon dengan sangat untuk menitip di akun saya, Pakde Kartono.

Apa boleh buat, menolong orang tak boleh tanggung-tanggung, saya yang tak tahu apa isi suratnya, mengiyakan saja permintaan Parman, sopir kantor berusia 25 tahun yang dari penglihatan saya selama 3 hari bersamanya adalah orang yang sederhana, polos, jujur, baik dan tidak neko-neko.

Singkat cerita, saya dititipkan surat dalam amplop yang tidak dilem tersebut, berikut isi surat Parman tersebut.

—————————————————————————————————————————-
Presiden SBY Yth…

Surat Terbuka Untuk SBY : Ayahku Koruptor, Tapi Bukan Binatang

Ayahku adalah seorang kepala desa (lurah) di Jawa Timur, ayahku ditetapkan sebagai tersangka, ditangkap dan ditahan kejaksaan setempat karena disangka korupsi bantuan desa sejumlah 5 juta rupiah. Uang Rp 5 juta tersebut ayah gunakan untuk membeli makan dan minum bersama seluruh warga desa diberbagai acara, seperti kerja bakti dan bakti sosial yang diadakan kantor kecamatan di desa ayah saya.

Akhirnya ayah saya disidang, dan pengadilan memvonis ayah saya 5 tahun penjara dan uang pengganti Rp 5 juta (jika tidak dibayar diganti 5 bulan penjara), karena dianggap korupsi Rp 5 juta, ayah saya banding, pengadilan tinggi menolak bandingnya, lalu kasasi, Mahkamah Agung menolak kasasinya juga. Karena putusan hukum sudah berkekuatan hukum tetap, Ayah saya semula ditahan di Rutan, lalu dipindah ke Lapas dikota tersebut. Sampai suatu hari dibulan Januari kemarin, Ayah saya dibangunkan tengah malam oleh petugas lapas, informasinya akan dipindah ke Lapas Porong Surabaya, untuk selanjutnya dipindah ke Lapas Sukamiskin Bandung.

Katanya ini program pemerintah, khususnya menkumham Amir Syamsuddin dan wamenkumham Denny Indrayana, semua narapidana korupsi dari seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari pulau We sampai pulau Rote akan dikumpulkan di Bandung, biar mudah mengawasi dan mengendalikannya. Mungkin selama ini pemerintah mengalami kesulitan mengawasi dan mengendalikan narapidana kasus-kasus korupsi.

Ayah saya tak diperkenankan membawa baju ganti satu helaipun, alat mandi dan alat sholatpun tak diperbolehkan dibawa. Berangkat naik bis lapas ke Surabaya, sejak naik keluar kamar sel sampai ke sel di lapas Surabaya, ayah selalu diborgol, padahal ayah saya sudah cukup tua usianya, memang ayah saya mau lari kemana ? Yang menjaga saja petugas lapas dan brimob berbadan tegap dengan senjata laras panjang. Menurut ayah saya perlakuan petugas lapas sungguh tidak berperikemanusiaan, sungguh melanggar HAM. Ayah hanya menangis dalam hati diperlakukan seperti itu.

Rupanya di Lapas surabaya, telah berkumpul narapidana dari lapas-lapas seluruh Jawa Timur untuk bersama-sama naik kereta Argo Wilis dari Surabaya ke Bandung. Hanya sebentar di Lapas Surabaya, ayah pagi harinya diberangkatkan ke Bandung.

Perjalanan menuju Bandung sungguh membuat hati Ayah menjerit dan menangis, sejak keluar Lapas Porong Sidoarjo, dengan posisi tangan diborgol dan disatukan dengan tali supaya tidak terpisah dengan narapidana lain, seperti kerbau yang sudah dicucuk hidungnya, yang berbaris menunggu antrian makan. Banyak wartawan sudah menunggu didepan lapas, puluhan kamera menyorot ayah dan narapidana korupsi lainnya. Rupanya perjalanan pemindahan narapidana korupsi dari surabaya ke Bandung sudah dibocorkan oleh kemenkumham ke media, hal yang harusnya bersifat rahasia dimanapun diseluruh bangsa beradab di dunia.

Ayah merasa ada kesengajaan dari jajaran kemenkumham untuk dipertontonkan ke publik, ayah merasa seperti binatang di kebun binatang, yang dirantai dan jadi tontonan. Petugas lapas yang membawa ayah dari surabaya ke bandung, tak bisa berbuat apa-apa, mereka katakan ini perintah pimpinan, perintah menkumHAM dan WamenkumHAM, narapidana harus dipertontonkan ke publik, dan harus naik kereta umum Argo Wilis pada siang hari bukannya memakai bis kepunyaan Lapas. Benar saja di stasiun kereta api Surabaya dan Bandung, wartawan telah banyak menunggu, di Lapas Bandung tak kalah banyaknya. Ayah saya sedih, pemerkosa dan pembunuhpun tak dipertontonkan seperti binatang.

Presiden SBY Yth…

Apakah ini keinginan anda juga, bukan hanya keinginan menteri dan wamen. Dimana Hak Asasi Manusia (HAM) yang anda junjung tinggi, dimana kesantunan anda yang selalu anda gembar-gemborkan. Dimana sifat tenggang rasa orang jawa yang anda wariskan dari nenek moyang leluhur anda. Apalagi setahu saya bapak SBY berasal dari Pacitan, salah satu kota di Jawa Timur. Bagaimana jika keluarga anda, anak kesayangan anda, Ibas Yudhoyono, yang suatu saat jadi tersangka dan dipertontonkan ke publik demi pencitraan kemenkumham semata ? Saya yakin bapak, seperti saya, akan menangis melihat orang tersayang diperlakukan seperti itu.

Akhir kata, mudah-mudahan Bapak SBY yang arif dan bijaksana, bisa melihat permasalahan yang ada dengan hati yang jernih dan kepala dingin, saya iklas ayah saya dihukum karena korupsi, tapi jangan perlakukan ayah saya seperti binatang.

Hormat saya
Parman, Kebon Jeruk, Jakarta

——————————————————————————————————————————

Saya hanya terdiam tak mampu berkata-kata setelah menuliskan surat terbuka Parman kepada presiden SBY. Biar presiden SBY yang menimbang apa tindakan yang perlu dia lakukan dan apa kebijakan yang perlu dia ambil, untuk Indonesia yang lebih baik.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

5 Jam Menuju Museum Angkut, Batu-Malang …

Find Leilla | | 31 July 2014 | 18:39

Kecoa, Orthoptera yang Berkhasiat …

Mariatul Qibtiah | | 31 July 2014 | 23:15

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Menjenguk Blowhole Sebuah Pesona Alam yang …

Roselina Tjiptadina... | | 31 July 2014 | 20:35


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 13 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 17 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 18 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 21 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: