Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Musolli Moez

sastra, iya, aku yakin punya jiwa itu, walaupun tak seorangpun yang lahir dari rahim ibuku menajdi selengkapnya

“Galau” Menunggu Pencairan dana Beasiswa BIDIKMISI

REP | 13 March 2013 | 17:51 Dibaca: 1529   Komentar: 1   0

Keadaan tak menentu yang dialami mahasiswa bidikmisi kali ini makin “mencekam” terutama yang berada di bawah naungan Kemenag, beberapa mahasiswa yang kuliah di kampus IAIN Sunan Ampel sudah kehabisan dana livingcost, sehingga untuk melakukan aktifitas sedikit terganggu. Bagi mereka yang aktif di organisasi secara otomatis tidak punya pendapatan tambahan selain dari beasiswa bidikmisi yang di tunggu-tunggu, tidak tahu kapan dana akan turun sedikit banyak mengganggu pikiran sebagian mahsiswa penerima BIDIKMISI, karena belajar dari pengalaman penerima bidikmisi tahun 2012 dana baru cair di akhir semester dan berakibat beberapa mahasiswa harus “mandeg” dari kegiatan perkuliahan karena orang tuanya tidak mampu untuk membiayai livingcost di Surabaya yang tidak murah.

Bidikmisi adalah beasiswa yang diperuntukkan bagi mereka yang kurang mampu secara ekonomi tapi berprestasi dirintis oleh Kemendikbud, jadi apabila pencairan dana bidikmisi tidak segera cair maka secara tidak langsung akan mengganggu aktifitas penerima bidikmisi karena untuk membiayai kehidupannya harus meminta kiriman pada orang tuanya yang notabene kurang mampu. Terdengar kabar bidikmisi bagi PTA akan dihapuskan, entah apa yang terjadi pada internal kemenag yang membawahi PTA di Indonesia sehingga tidak melanjutkan program beasiswa bidikmisi yang pada kenyataan dilapangan prestasi mahasiswa bidikmisi tidak mengecewakan. Setahu saya nilai IP mahasiswa bidikmisi di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya rata-rata 3.00, jadi program ini apabila tidak dilanjutkan sangat di sayangkan sekali melihat pada kenyataan dilpangan.

Berita yang sangat meng-iri-kan hari ini (13-03-2013 http://kampus.okezone.com/read/2013/03/13/373/775128/anggaran-kemendikbud-sudah-cair) adalah dana di kemendikbud sudah sepenuhnya cair (73,1 Triliun) yang kemarin sempat diblokir oleh menteri keuangan karena dianggap Sembilan dari sepuluh program yang ada di kemendikbud perlu penjelasan namun berita dari kemenag yang membawahi perguruan tinggi agama tak ada gaungnya sedikitpun. Merunut pada penjelasan bapak M. Nuh selaku Mendikbud dana yang dikucurkan pada kemenag justru lebih besar dari pada yang dikucurkan pada kemendikbud dan beliau berkeyakinan kemenag bisa menangani dan melanjutkan program bidikmisi rintisannya.

Pada tahun 2012/2013, sesuai dengan peraturan dan ketentuan baru dari Kementerian Keuangan, program Bidikmisi khusus untuk perguruan tinggi agama (PTA), dialihkan ke Kemenag. Tujuannya agar proses pencairan dana tersebut tidak lagi dengan kontrak, tetapi langsung dilakukan sama seperti dengan PTN ke perguruan tinggi yang bersangkutan. Namun pada semester ini terjadi keterlambatan yang seharusnya tidak terjadi karena bidikmisi sudah berjalan tiga tahun, suatu program yang berjalan kedepan seharusnya menjadi lebih baik dan atau melakukan perbaikan-perbaikan dalam banyak hal, terutama dalam hal administrasinya, sehingga tidak perlu adanya keterlambatan dalam pencairan dana.

Menunggu, itulah yang biasa dilakukan mahasiswa bidikmisi ketika dana turun tidak pada waktunya walaupun sering harus mengosongkan perut demi bertahan hidup. Kalau sudah mendesak maka harus berhutang pada teman yang mau berbaik hati meminjamkan uang, karena tidak jarang teman yang mau dipinjami sama-sama tidak punya uang. Apa lagi yang harus dilakuakan sampai-sampai tidak tahu, bila seperti itu yang terjadi mau mengemis kepada siapa lagi, mau minta ke orang tua tak enak hati karena mereka yakin dengan mendapat beasiswa, mereka sudah sangat terbantu tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Bagaimanapun, begitu keyakinan orang tua yang sudah bangga dengan anaknya.

surabaya: 13/03/2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50


TRENDING ARTICLES

Ternyata Gak Gampang Ya, Pak Jokowi …

Heno Bharata | 11 jam lalu

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 12 jam lalu

Invasi Tahu Gejrot …

Teberatu | 13 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 15 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Inggris tanpa Raya, Nasib istilah …

Adie Sachs | 7 jam lalu

Kupangku Kasihku (MDK) #1 …

Pietro Netti | 8 jam lalu

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | 8 jam lalu

Metode Baru Pilkada(sung) …

Muksalmina Mta | 8 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Kisah Penemuan Serum …

Mustafa Kamal | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: