Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Baru Muncul E-Catalog (LKPP) Sudah Muncul Kritik

OPINI | 13 March 2013 | 00:53 Dibaca: 1922   Komentar: 0   0

13631105681479288129

Segala bentuk dan cara di lakukan pemerintahan indonesia. Berbagai inovasi di lakukan dan dibuat agar dapat mampu bersaing dengan dunia luar. Kemajuan zaman seakan akan selalu menjadi suatu tuntutan atau kewajiban yang harus di penuhi serta di jalani. Pemerintah kemudian berfikir apa yang harus dilakukan dan apa yang sesuai dengan zaman yang sudah menggunakan internet. Segala kecepatan informasi tetap dan lugas menjadi PR. Salah satu yang di keluarkan ialah E - Katalog Pengadaan Barang/Jasa Publik. Apa itu e – katalog pengadaan barang/jasa publik, Dimana e-Katalog Pengadaan Barang/Jasa Publik di buat oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) pada penghujung 2012. Mulai 2013, pengadaan layanan koneksi Internet sampai dengan 30 Mbps untuk lembaga pemerintah dapat membeli langsung tanpa melalui lelang. Di zaman yang semakin maju di mana informasi harus di dapat secepat mungkin inovasi ini pun muncul belum lama dan baru pada tahap awal. Mungkin istilah “time is money” sangat terlihat di sini dan sangat tetap. Semakin banyak barang/jasa dengan spefisikasi yang terstandardkan (seperti kendaraan bermotor, alat-alat kesehatan) yang masuk dalam e-katalog. Dalam e-katalog yang tersedia online dicantumkan spesifikasi barang/jasa dan harga yang ditawarkan oleh rekanan.

Apa manfaatnya? Pertama, e-katalog menjadikan proses pengadaan barang/jasa di sektor publik lebih efisien. Waktu pengadaan yang pendek dan persaingan sehat rekanan menunguntungkan pemerintah dalam mendapatkan harga terbaik. Kedua, e-katalog juga dapat meningkatkan transparansi. Dalam kasus koneksi Internet, semua ISP memberikan harga layanan secara terbuka. Dengan demikian, masalah kebocoran anggaran yang sering terjadi dalam pengadaaan barang/jasa bisa ditekan. Ketiga, e-katalog yang menyederhanakan proses akan mengundang semakin banyak rekanan untuk berpartisipasi. E-katalog telah menghilangkan administrasi dan proses pengadaan barang/jasa yang cenderung rumit (red tape). Manfaat seperti ini akan semakin terasa, ketika semakin banyak barang/jasa yang dimasukkan ke dalam e-katalog.

Harapan ini dilengkapi dengan kampanye LKPP untuk penggunaan e-procurement untuk 100% dalam pengadaan barang/jasa sektor publik. Kampanye ini bisa dikaitkan dengan Instruksi Presiden No. 17/2011 tentang pencegahan dan pemberantasan korupsi, yang mengharuskan lembaga pemerintah pada tahun 2012 melakukan lelang secara online: sebanyak 40% anggaran pengadaan (untuk provinsi/kabupaten/kota) dan 75% (untuk lembaga di pusat). Apakah semuanya akan berjalan mulus? Belum tentu.

E-procurement sebagai bagian dari inisiatif e-government adalah keputusan politik yang tidak steril dari tarik-ulur kepentingan. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa konflik kepentingan antaraktor menjadi penghambat utama pelaksanaan e-procurement di banyak lembaga. Apakah benar e-procurement dapat dikatakan mengurangi korupsi ? segala pertanyaan harus mempunyai solusi yang tetap agar program ini dapat berjalan sesuai dengan harapan. Dan segala tujuan untuk mencegah dan memberantas korupsi harus dilakukan banyak cara yang transparasi agar dapat meminimalisirnya.

Sumber :

http://fathulwahid.wordpress.com/2013/02/05/e-katalog-pengadaan-barangjasa-publik/ (di unduh tanggal 13/03/2013 pukul 0.30)

http://wartaekonomi.co.id/berita7056/ini-27-isp-yang-masuk-ekatalog-lkpp.html

(Ini 27 ISP yang Masuk e-Katalog LKPP Hatta - Digital Economy / Kamis, 27 Desember 2012 19:04 WIB) (di unduh tanggal 13/03/2013 pukul 0.33)

http://lpse.blogdetik.com/2010/10/18/arsitektur-teknis-e-purchasing/

(di unduh tanggal 13/03/2013 pukul 0.33)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 11 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 12 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 12 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 15 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Buzz!!! Apa Sih Maumu? …

Lipul El Pupaka | 7 jam lalu

Bersikap Bijak Ketika Harga Elpiji Melonjak …

Sam Leinad | 8 jam lalu

Kicau Cendrawasih Tersisih …

Ando Ajo | 8 jam lalu

Melihat Perjuangan Rakyat Bali Mengusir …

Herdian Armandhani | 8 jam lalu

Belajar Open Mic Matematika …

Andi Setiyono | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: