Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Gitanyali Ratitia

“I'm selfish, impatient and a little insecure. I make mistakes, I am out of control selengkapnya

Usul untuk Pemerintah tentang Si Mbak yang Jadi TKW

REP | 17 February 2013 | 22:11 Dibaca: 262   Komentar: 0   0

1361113517673587580

Maraknya TKW bermasalah sering diexspose media entah itu di TV , koran dan Internet. Saya sebenarnya sudah jenuh dan bosan dengan sistem yang berjalan selama ini . Kenapa Pemerintah tidak melarang pengiriman mbak-mbak keluar negri sebagai Pembantu. Saya pribadi sebenarnya kurang setuju dengan kebijaksanaan Pemerintah yang masih mengirimkan mbak-mbak hanya untuk diperbantukan sebagai MAID atau AMAH ini tanpa skill atau low skilled worker (pekerja dengan skill rendah).

Dalam impian saya mbok ya Pemerintah itu membekali training mba-mbak ini sebelum dikirim keluar negeri sebagai tenaga ahli dengan skill, contohnya nanti si mbak bisa menjadi perawat / penjaga orang tua, perawat anak-anak / nanny, tukang masak (koki) , Gardener (tukang kebon) dll. Jadi Pemerintah tidak hanya mengirimkan mbak-mbak ke Singapore, Malaysia, Saudi Arabia tanpa skill sama sekali. Buntutnya mereka hanya menjadi pembantu rumah tangga saja di rumah majikan tanpa keahlian yang berarti dan rawan kekerasan fisik serta sosial.

Pemerintah juga harus berani membuka jalur diplomasi dengan negara tetangga dan bekerjasama dengan agent kalau supply si mbak-mbak dari Indonesia ini nantinya hanya akan di perbantukan menurut skillnya masing-masing , kalau si mbak ahli di bidang masak dengan pendidikan masak yang telah di bekalkan di Indonesia kemudian si mbak bisa dipekerjakan di food court, kopitiam, cafe,Restorant cepat saji atau rumah orang-orang kaya yang membutuhkan tukang masak. Di Singapore para pemilik warung di food court sering kesulitan mencari pegawai tetap, orang lokal sangat pemilih dalam mencari pekerjaan, pekerjaan yang long hour dan bekerja di ujung minggu biasanya akan sangat di hindari oleh orang lokal. Jadi kenapa kita tidak memanfaatkan kesempatan emas ini?.

Sedangkan si mbak yang di bekali dengan pendidikan pengasuhan anak / Nanny mesti di perbantukan di rumah majikan yang memang memerlukan nanny, bisa diperbantukan di Child care,play group, jadi tidak tumpah tindih seperti sekarang , ya nanny,tukang masak,bersih-bersih rumah,menjaga anjing,menjaga orang tua sekaligus dalam satu rumah. Mbak yang dibekali kursus menjaga orang tua diperbantukan di rumah orang tua (old folks home ), bisa juga diperbantukan di rumah majikan yang sangat memerlukan penjaga orang tua.

Sedangkan si mbak yang suka bersih-bersih dibekali pendidikan di bidang ini secara profesional, supaya nantinya si mbak juga bisa menjadi cleaner di kantor-kantor,mal-mal,restaurant cepat saji, tukang cuci piring di Restaurant etc ( saya tahu demand untuk cleaner sangat tingi di Singapore).

Memang selama ini keputusan work permit yang dikeluarkan dari MOM (Singapore) Ministry Of Manpower menyatakan kalau maid hanya bisa diperbantukan di rumah majikan saja. Untuk itu saya berharap supaya Pemerintah membekali si mbak dengan skill jadi work permit mereka nantinya bukan di tulis sebagai Foreign Domestic Worker (FDW) tetapi sebagai Skill Worker. Kalau skillnya cleaner ya di Work permitnya ditulis cleaner, kalau skillnya nanny begitu juga sebaliknya. Untuk itu tolong di buka jalur diplomasinya lagi supaya Indonesia tidak hanya di enyek-enyek (dijelek-jelekan) di Luar negeri hanya sebagai penyuplai maid!

Pendapat saya kalau Pemerintah membuka sistem pendidikan /kursus di bidang yang saya sebut diatas secara profesional, otomatis para mbak ini bisa terangkat gaji mereka, disamping itu status sosial juga terangkat karena mereka termasuk dalam kategori skill worker dan tidak dipandang sebelah mata dengan orang-orang lokal. Kalau tidak ada yang memulai sekarang kapan lagi? , makanya saya ingin mengusik Mentri Pemberdayaan Perempuan bagaimana sih agenda mereka mbok ya di perhatikan mereka ini, jangan hanya puas melihat si mbak sebagai penghasil devisa negara , mbok ya di sejahterakan nasib mereka supaya menjadi pekerja yang ber-skill yang bisa menyeejahterakan hidup mereka dan anak-anak yang telah ditinggal bertahun-tahun di tanah air.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Istiwak, Jam Kuno di Kota Solo …

Agoeng Widodo | | 23 September 2014 | 11:20

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Mengapa Toga Berwarna Hitam? …

Himawan Pradipta | | 23 September 2014 | 15:14

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Kabinet Jokowi ala Kaki Lima …

Susy Haryawan | 10 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 11 jam lalu

Gagal Paham (Pejabat) Kemendikbud dalam PR …

Antowi | 12 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Ka eM Pe …

Pak De Sakimun | 7 jam lalu

Hubungan Asmaraku dengan Ibu Kost (Bagian 6) …

Ervipi | 7 jam lalu

Life Begins at Forty …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Sore yang Cantik di Pelabuhan Kuno Gresik …

Mawan Sidarta | 7 jam lalu

Tak Ada Tulang Rusuk yang Tertukar …

Siti Nur Rohmah | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: