Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Sigit Priyadi

Padang rumput hijau, sepi, bersih, sapi merumput, segar, windmill, tubuh basah oleh keringat.

Kualitas Figur Kades, Peran BPD, dan Tradisi Pencoblosan Pilkades.

OPINI | 04 February 2013 | 22:59 Dibaca: 810   Komentar: 0   1

Bagaimana menakar kemampuan memimpin seorang calon Kades? Ambisi bagi beberapa orang penduduk asli setempat.untuk menjadi seorang pemimpin masyarakat dalam suatu wilayah yang mendapat sebutan: ‘desa’ ternyata masih sangat tinggi. Jabatan sebagai Kepala Desa ternyata masih merupakan suatu kebanggaan. Meskipun seorang calon pernah mengalami kekalahan suara dalam Pilkades, bukan berarti kehilangan semangat untuk maju lagi dalam pertarungan Pilkades periode yang akan datang. Asalkan modal tanah, kebun, dan sawah, masih tersedia, maka calon yang pernah gagal itu akan berusaha lagi untuk mencoba peruntungannya bertarung sekali lagi demi ambisinya.

Sesudah pelaksanaan Pilkades, maka akan muncul seorang pemenang yang ditentukan berdasarkan suara pemilih terbanyak. Selanjutnya calon pemenang tersebut akan memegang tampuk pemimpin di wilayah kekuasaannya selama enam tahun ke depan. Bila kepala desa itu merupakan sosok yang mempunyai watak kepemimpinan yang sesuai harapan semua pihak, maka hal ini merupakan berkah keberuntungan bagi warga masyarakat desa tersebut. Warga masyarakat nantinya pasti akan merasakan kemajuan wilayahnya secara nyata. Semboyan ‘Gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja. Murah kang sarwa tinuku, thukul kang sarwa tinandur’ seakan-akan terwujud di depan mata. Semua kalangan akan memandang dengan penuh optimis terhadap sepak terjang kepala desanya yang baru. Rakyat warga desa dengan perasaan segan akan menjumpai kepala desanya saat berada di kantor desa, ketika akan mengurus surat-surat KTP, IMB, Akte tanah, dan lain-lain. Rakyat juga terbiasa melihat kehadiran sosok kepala desanya  di tempat-tempat umum, bahkan saat sedang ada hajatan pernikahan, posyandu, ataupun acara kerjabakti. Bapak Kepala Desa dengan penuh kewibawaan  selalu muncul untuk sekedar meninjau sambil lalu dan berdialog dengan para warga. Pendek kata: sangat mudah menjumpai Bapak Kades pada setiap waktu dan kesempatan.

Lalau bagaimanakah bila ternyata Kepala desa (Kades) terpilih itu tidak mempunyai kemampuan memimpin seperti lazimnya sosok pemimpin yang diidam-idamkan? Kondisi ini tentu akan menjadi hambatan bagi kemajuan wilayah desa. Situasi pembangunan desa terasa berjalan di tempat. Informasi program pemerintah tidak pernah sampai ke telinga masyarakat. Kemajuan desa tidak bisa dipantau oleh masyarakat, akibat tidak ada kesinambungan berita antara kantor desa dengan pemangku wilayah paling ujung, yaitu Ketua RT. Untuk mencegah kondisi buruk itu, peran BPD (Badan Permusyawaratan Desa) yang dulu bernama LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa) seharusnya mampu memainkan peranannya dalam mengawal dan memberikan masukan kepada figure pemimpin desa yang telah dipilih oleh rakyat tersebut.

Bisa  jadi Kades tersebut ‘hanya’ berpendidikan sekolah dasar, serta belum berpengalaman mengatur wilayah, mengelola SDM, mengurus administrasi pemerintahan, menyusun rencana kerja pembangunan, dan menyampaikan pidato, sehingga yang bersangkutan seakan-akan bersikap pasif atau lebih banyak pergi mengasingkan dirinya. Bila situasi semacam itu yang muncul sebaiknya Bapak atau Ibu Kades diberi pencerahan mengenai hal-hal tersebut, sehingga orientasi kerjanya jangan hanya berupa keinginan untuk ‘menutup modal yang dikeluarkan saat mencalonkan diri’, apalagi keinginan untuk menikah lagi. Warga masyarakat sebaiknya juga harus mendukung sepenuhnya serta dapat menjunjung tinggi kewibawaan pemimpin desanya. Prasangka baik dan sikap hormat yang sewajarnya diperlukan oleh Kades, agar beliau dapat menampilkan dirinya di hadapan warga masyarakat secara wajar pula. Pembawaan dan kewibawaan seorang figure Kades seharusnya mendapat perhatian khusus oleh figure yang bersangkutan.

Dalam perjalanan waktu, kemungkinan dalam wilayah desa akan muncul permukiman baru yang dibangun dan ditempati oleh warga pendatang dari luar desa. Biasanya warga perumahan jarang terlibat dalam urusan-urusan desa, kecuali bila ingin membuat KTP atau surat-surat kelengkapan dokumen pribadi. Keberadaan permukiman bagi pendatang tersebut biasanya dalam situasi mendadak akan menimbulkan jurang pemisah ‘psikologis’ antara aparat desa dan warga pendatang. Pembatas ‘psikologis’ ini dalam urusan Pilkades, biasanya berupa keengganan calon kades untuk masuk ke wilayah perumahan. Mungkin ada perasaan minder bila bertatap muka dengan para penghuni perumahan yang dianggap lebih pintar. Sehingga mustahil ada seorang calon Kades yang bersedia datang ke perumahan untuk berkampanye, kecuali yang bersangkutan memiliki rasa percaya diri yang cukup besar. Padahal bila melihat potensi suara dari warga pendatang di perumahan tentu akan jadi potensial besar bila bakal calon Kades sanggup memberikan kesan simpatik bagi warga perumahan. Saya pernah mengalami (pada tahun 2006) saat seorang bakal calon Kades disertai istrinya dan tim sukses bertamu ke rumah pada malam hari untuk ’sowan meminta dukungan moril dan do’a kepada saya selaku Ketua RT. Sebelum berpamitan pulang, setelah berbicara beberapa menit, bakal calon Kades memberi saya kenang-kenangan berupa kerudung untuk istri saya. Beberapa bakal calon kades memanfaatkan ibu-ibu rumah tangga di RT agar mau jadi bagian ‘tim sukses’ untuk membantu membagi-bagikan amplop berisi pecahan uang 20 ribua-an. Akhirnya beberapa orang ibu mendadak jadi sibuk bersliweran membagi-bagikan amplop kepada teman-temannya sesame ibu rumah tangga sambil memberitahu ‘nama’ bakal calon yang telah berbaik hati memberikan tambahan uang belanja tersebut.

Tibalah saatnya pada hari ‘H’ ketika berlangsung pemungutan suara. Pengelolaan proses pemungutan suara dalam acara Pilkades yang pernah saya alami, menjadi hal unik, ketika lokasinya ditentukan di satu tempat berupa lapangan kosong. Pada hari itu semua bakal calon berdandan resmi dengan setelan jas, berdasi, dan berpeci. Mereka duduk di panggung yang dibangun di tepi lapangan, didampingi oleh istri masing-masing yang juga tak kalah menawan dandanannya. Bisa dibayangkan betapa ramainya suasana lapangan ketika lima ribu hingga sepuluh ribu pemilih datang bersamaan pada waktu yang sama. Suasana sangat kacau balau. Sejumlah pemilih harus sabar mengantri untuk dipanggil memasuki bilik suara. Bagi yang tidak tahan panas dan berdiri terlihat pulang kembali ke rumah, dan mencoba hadir kembali pada sore harinya.

Berdasarkan pengalaman tersebut, serta mengambil aspek positif pelaksanaan Pilkada yang menggunakan lokasi TPS tersebar di seantero wilayah desa, seharusnya dalam Pilkades mulai diterapkan model pemungutan suara seperti dalam pelaksanaan Pilkada. Penduduk desa yang masih taat kepada aturan serta masih antusias dengan system demokrasi pemilihan Kades seharusnya diberikan pelayanan yang nyaman dan simple untuk memberikan suaranya, sebab saya percaya bahwa lahirnya pemimpin  Kades yang baik bermula dari proses pemilihan calon yang tertib, jujur, dan nyaman. Para anggota panitia Pilkades harus berani melakukan perubahan dan perbaikan system kerjanya, agar amanah yang diberikan oleh BPD dapat melahirkan sosok pemimpin yang adil, amanah, dan memikirkan kepentingan rakyat. Semoga.

4 Februari 2013.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Si Belang dan Si Nenek …

Raafiud D. Mikada | 7 jam lalu

Cerita Romantis 25 …

Eko Kriswanto | 7 jam lalu

Mengisi Akhir Pekan: Melepas Kangen …

Dewilailypurnamasar... | 7 jam lalu

Lelah …

Tuti Amaliah | 8 jam lalu

Hobi Penikmat Event …

Farizal Hammi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: