Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Masyarakat

Pemerhati birokrat dan birokrasi birokratwatch@gmail.com

Fenomena PNS Karbitan

OPINI | 14 December 2012 | 13:53 Dibaca: 2363   Komentar: 0   11

Gelombang demonstrasi para kades yang menuntut untuk diangkat sebagai PNS merupakan sebuah tragedi yang luar biasa bagi perkembangan kehidupan bernegara di Indonesia, selain dikarenakan membuat kemacetan parah di ibu kota , dengan cara demonstrasi yang tidak intelektual dan cenderung egois karena merugikan banyak pengguna jalan. namun yang paling mengkhawatirkan adalah munculnya fenomena yang luar biasa dari berbagai kalangan untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Bagi saya pribadi itu merupakan suatu kemunduran yang luar biasa yang diciptakan oleh pemerintahan SBY yang hampir 10 Tahun berkuasa, kita bisa melihat ribuan perawat, guru, bidan, penyuluh pertanian, yang berbondong bondong melakukan mogok kerja demi hasrat duniawi ingin diangkat sebagai PNS.

Pemerintahan SBY telah membentuk manusia Indonesia menjadi manusia yang malas, manusia instan, karbitan, hanya ingin enaknya saja, mereka (para pendemo), tidak bisa disalahkan sepenuhnya dikarenakan selama ini mereka di iming imingi dan diberi mimpi indah oleh pemerintah untuk diangkat menjadi PNS, selain itu mereka sudah menyaksikan kolega atau saudara mereka yang telah menjadi PNS bisa bekerja dengan santai namun memiliki kehidupan yang mapan. Lalu apakah itu tujuan adanya birokrasi? , semenjak pemerintahan SBY sudah tidak terhitung berapa kali gaji PNS naik berikut tunjangan dan tetek bengeknya tanpa diimbangi oleh kualitas SDM yang berkualitas dan profesional. Gejala kecemburuan sosial sudah Nampak di masyarakat dan itu tidak di antisipasi oleh pemerintah SBY yang malah bertindak kontraproduktif.

Rekrutmen birokrat yang salah selama ini berakibat kepada masyarakat, merakalah yang menjadi korban dari kesalahan merekrut birokrat yang profesioanal. Idealnya seorang PNS tidaklah harus banyak, tidak semua guru, perawat, bidan harus diangkat menjadi PNS. PNS harus merupakan orang orang pilihan baik secara akademis maupun mental. Tidak bisa dibayangkan seorang guru honorer tanpa pendidikan dan kualitas yang memadai diangkat menjadi PNS hanya dikarenakan kasihan semata, maka tidak salah sekarang para kades pun menuntut hal serupa walaupun kades tersebut hanya lulusan SMP atau SMA persamaan dan tinggal menunggu waktu profesi yang lain pun akan menuntut hal yang sama.

Anggaran Negara defisit dikarenakan beban gaji PNS dan pensiunan harusnya membuat SBY berpikir strategis, tidak hanya politis dan pencitraan semata. Banyak generasi muda yang berkualitas yang layak menjadi birokrat namun justru mereka tidak memilih menjadi PNS dan justru generasi yang tidak produktif yang berhasrat tinggi menjadi PNS. Alih alih menciptakan wirausahawan handal yang ada pemerintah lebih suka meninabobokan kaum pemalas.

PNS ideal tidak harus banyak, cukup di posisi posisi strategis saja, untuk profesi guru, bidan, perawat, penyuluh pertanian, penjaga sekolah, tidak usahlah diangkat menjadi PNS namun tetap harus disejahterakan. Jangan ada lagi PNS jalur honorer yang isinya manusia titipan dan kebanyakan pengangguran, rekrutlah PNS hanya dari perguruan tinggi ternama dan kemudian lakukan tes personal yang menunjukan moralitas dan integritas para calon PNS, bila perlu pakailah konsultan asing yang betul betul profesional dan independen dalam melakukantes psikologi. Karena bibit yang baik akan menghasilkan tanaman dan buah yang baik pula. Tidak seperti saat ini yang ada adalah PNS karbitan, penuh nepotisme dan tentu saja menghabiskan uang Negara yang sebetulnya lebih bermanfaat untuk digunakan di sektor yang lain. Rakyat tidak akan pernah merasa rugi menggaji PNS yang bekerja secara professional, tidak seperti saat ini lebih banyak PNS yang berkualitas, walaupun ada beberapa instansi yang sudah mulai berbenah dan professional namun itu jumlahnya hanya sedikit sekali.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

PKS Pecundang Menolak Pilkada Langsung …

Damang Averroes Al-... | 8 jam lalu

Jusuf Kalla Sebaiknya Belajar dari Ahok …

Relly Jehato | 10 jam lalu

Wanda Hamidah Bukan Ahok …

Mawalu | 12 jam lalu

Ini Kepemimpinan Ala Jokowi …

Sjahrir Hannanu | 12 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Oh…Tidak, Gas Pertamina Non-Subsidi …

Ronald Haloho | 10 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 10 jam lalu

Gol Pinalti Gerrard di Injury Time Bawa …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Mengapa Nama Tegar …

Much. Khoiri | 10 jam lalu

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: