Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Sundari Yanto

Saya berpikir dan kemudian menulis, tulisan saya memang belum baik diakui, saya kerja diswasta, sekolah selengkapnya

Terobosan Ahok di Youtube Membuka Kebrobrokan Birokrasi

REP | 16 November 2012 | 14:24 Dibaca: 1384   Komentar: 5   5

Wajah birokrat semacam kepala dinas Pendidikan DKI, Kepala PU DKI dan Kepala dinas lalu lintas dan angkutan jalan DKI terlihat manyun dan tegang ketika Ahok membuka rapat tanpa ada protokoler seperti biasanya. Ahok langsung menyatakan protes dan sekaligus memberikan masukan solusi yang harus ditempuh para kepala dinas untuk menghemat anggaran belanja masing masing SKPD. Tidak tau apa yang terlintas dalam benak masing masing Ka SKPD, tetapi lucu bila menyimak komentator youtube yang di Upload oleh Pemda DKI. Ada yang mengatakan maju terus Ahok rakyat mendukungmu !, ada yang mengatakan ” rakyat DKI tidak salah pilih, walau minoritas dan agama berbeda tetapi inilah sebenarnya rahmatil ilamin bagi DKI”. Pujian bertubi tubi dari rakyat DKI dan komentator, sebaliknya ada yang mengatakan bahwa “habis deh kongkalikong para koruptor dengan adanya ahok di Pemda DKI”. Tidak sedikit yang menghakimi dan bahkan telah memvonis para birokrat sebagai tikus tikus yang harus di singkirkan.

Memang bila memperhatikan Youtube tanggal 14 November 2012 baik yang di Pekerjaan umum maupun di sekolah unggulan dan dinas Pendidikan nyata bahwa selama ini rakyat telah dibodohi dengan ulah beberapa birokrat yang tidak profesional memungut uang dari rakyat untuk kepentingan keunggulan sekolah mereka. Ahok justru berpikir sebaliknya jangan dibebankan pada rakyat, tetapi berikan kesempatan seluas luasnya bagi masyarakat miskin untuk berkompetensi dalam pendidikan disekolah unggulan, kalau mereka mampu kenapa tidak, bagi masyarakat yang cukup kaya punya alpard dan berpenghasilan baik kenapa tidak sekolah di Alhajar?. Ahok tegas melarang pungutan disekolah dengan dalih peningkatan mutu dan lulusan sekolah, kalau memang itu alasannya Ahok justru menantang fihak sekolah untuk membuat kebutuhan anggaran untuk peningkatan mutu pada pemda DKI tapi dengan catatan tidak memungut dari peserta didik dan orang tua murid. Kelihatan sekali Ahok sangat menguasai permasalahan sekolah, Ahok bahkan dengan tebuka mengatakan bahwa apa yang menjadi tujuan anggaran DKI adalah memberikan kesempatan pada rakyat biasa dan rakyat miskin untuk ikut serta menjadi peserta didik disekolah bertaraf internasional atau unggulan. Memang semua masuk akan apa yang disampaikan Ahok dan terbukalah bagi kita bahwa selama ini ternyata pembiayaan dua arah tetap terjadi selama ada penarikan uang dari peserta diidki, yang pertama dari Pemda DKI dan kedua dari para Orang tua murid, sungguh tragis semua yang telah terjadi sebelum Ahok menjadi Wagub, padahal itu semua pungli namun tetap dilaksanakan.

Dijajaran Pekerjaan umum jelas HPS(harga perhitungan sendiri) jauh melampai spesifikasi tehnis yang seharusnya sehingga yang tertera nantinya dalam Rab telah melampui jauh dari harga sepatutnya. Sungguh rapat itu terdengar hanya beberapa tanggapan dari PU karna mereka menyadari dengan sungguh bahwa selama ini itulah yang mereka lakukan tanpa adanya teguran dari atasan, dianggap hal biasa dari mulainya perhitungan proyek ini sudah dilakukan marki up dengan konsultan yang mau ikut bekerja sama, akibatnya proyek jauh dari harga seharusnya, sebagai contoh kata Ahok hentingan pembangunan pos Polisi kalau anggaran yan gibutuhkan 1 M, Pos model apa ini kata Ahok, berikan saya Speknya saya akan bangun sendiri kemungkinan akan jatuh hanya 500 juta, sehingga tidak ada pemborosoan anggaran seperti sekarang ini. Ahok langsung mengambil kebijakan untuk memotong 25 % anggaran PU untuk kepentingan kegiatan lainnya yang dirasakan sebagai skala prioritas untuk masyarakat DKI. Herannya kalau seandainya apa yang disampaikan Ahok tidak benar tentulah staf dan kepala Pu saat itu pasti akan protes, ini tidak mereka akan membuat HPS baru dengan pemotongan 25% saran dari Ahok artinya memang PU selama ini diindikasikan sebagai tempat terjadinya pengumpulan anggaran dari PParpol dan elite yang berkaloborasi dengan penguasa DKI tentunya Gubernur dan wakil gubernur. Pastas saja PKS meminta jatah kepala SKPD 3 SKPD salah satunya adalah PU ketika mereka melakukan pendekatan politik dengan Foke.

Ahok telah merintis akuntabilitas seperti yang dijanjikannya dalam kampanye yang dilakukannya menjelang terpilihnya menjadi penguasa DKI, perubahan akuntabilitas ini sangat mempengaruhi publik lihat saja dukungan bagi keduanya setelah mereka menjabat gubernur dan wakil gubernur sampai sampai para pemilik media meyakini bahwa berita tentang keduanya adalah oplah yang laku terjual di ranah publik, terbukti bahwa rakyat merindukan keterbukaan dan keinginan perubahan dari tikus tikus birokrat berwajah mayun minta dikasihani saat menonton youtube, padahal ketika era sebelumnya mereka begitu tinggi hati, sombong sulit ditemui bahkan segudang agenda tidak jelas, nah saat ini wajah itu berubah mereka bagai tikus yang telah tertangkap di kandang perangkap wajah kasihan jelas terlihat tapi dasar tikus wajah itu hanya kepura puraan seperti kata beberapa komentator di youtube ” dalam hatinya pasti deh mereka mengatakan dasar loe, gue hilang lagi pendapatannya”, semoga Tuhan yang maha kuasa senantiasa menyertai keduanya untuk menjalankan tugas dengan baik, dan menjadi mahnit perubahan di semua birokrat Indonesia yang terkenal dengan gaya lamanya.

Bravo Jokowi dan Basuki rakyat jelas sangat mendukung keterbukaan yang anda berdua suguhkan pada kami.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 9 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 9 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 10 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 8 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 8 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 8 jam lalu

Rinni Wulandari Lebih Melesat… …

Raynadi Salam | 9 jam lalu

Kecardasan Tradisional …

Ihya Ulumuddin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: