Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Sukito Wibowo

pemulung yang kerja serabutan, terkadang jadi tukang kumpul beling dan barang bekas, di lain waktu selengkapnya

Orang Aceh Naik Haji via Laut, Mungkinkah?

OPINI | 05 September 2012 | 03:42 Dibaca: 520   Komentar: 3   1

www.tribunnews.com

Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf mewacanakan pergi haji melalui kapal laut sejenis Star Cruise. Ongkos melalui kapal ini jauh lebih murah dibandingkan menggunakan pesawat terbang, katanya kepada Serambinews (http://www.tribunnews.com/2012/09/04/wagub-aceh-wacanakan-haji-dengan-kapal-pesiar).

Buat saya pribadi, inilah salah satu terobosan seorang pemimpin yang tidak terpaku pada pakem dan protokol yang sudah berlaku selama ini, mengingat penyelenggaraan haji di Indonesia selain sangat mahal juga sarat masalah. Mulai dari proses pemberangkatan, penantian yang memerlukan waktu lebih dari 10 tahun, hingga persoalan-persoalan setelah sampai di tanah suci mulai dari tempat tinggal konsumsi dan lain-lain.

Kompleksnya persoalan haji di Indonesia tentunya tidak terlepas dari ketidakbecusan Kementerian Agama dalam mengurusnya. Kristalisasi birokrasi yang korup dalam kementerian itu menjadikan orang Indonesia harus menanti lebih dari 10 tahun untuk dapat berangkat haji. Wacana yang diangkat oleh Wagub Aceh tersebut bisa jadi dapat mengatasi salah satu persoalan yaitu tingginya harga/biaya naik haji di Indonesia. Namun demikian, wacana yang baik tersebut diharapkan tidak hanya menjadi sekedar wacana tanpa proses pelaksanaan koordinasi dengan kementerian agama. Selain alternatif angkutan berbiaya lebih murah, juga perluanya penambahan kuota haji bagi Indonesia. Hal inilah yang harus didorong terus menerus oleh Pemerintah Indonesia melalui kementerian agama kepada Pemerintah Arab Saudi.

Wacana via laut ini juga bukan tanpa persoalan, dimana waktu tempuh dari Aceh ke Mekkah yang memerlukan 21 hari perjalanan, artinya pulang-pergi 42 hari. Belum lagi apabila terdapat jamaah yang meninggal dunia selama perjalanan. Bagaimana tata cara evakuasi dan lain-lainnya. Namun demikian dari persoalan-persoalan yang demikian banyak itu, wacana Wagub Aceh ini perlu diapresiasi dan dilanjutkan dengan prosesnya secara tehnis, dimana alternatif pemberangkatan haji adalah hal logis yang bisa saja dilaksanakan di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum begitu membaik.

SW

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Istiwak, Jam Kuno di Kota Solo …

Agoeng Widodo | | 23 September 2014 | 11:20

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Mengapa Toga Berwarna Hitam? …

Himawan Pradipta | | 23 September 2014 | 15:14

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Kabinet Jokowi ala Kaki Lima …

Susy Haryawan | 10 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 11 jam lalu

Gagal Paham (Pejabat) Kemendikbud dalam PR …

Antowi | 12 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Ka eM Pe …

Pak De Sakimun | 7 jam lalu

Hubungan Asmaraku dengan Ibu Kost (Bagian 6) …

Ervipi | 7 jam lalu

Life Begins at Forty …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Sore yang Cantik di Pelabuhan Kuno Gresik …

Mawan Sidarta | 7 jam lalu

Tak Ada Tulang Rusuk yang Tertukar …

Siti Nur Rohmah | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: