Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Sukito Wibowo

pemulung yang kerja serabutan, terkadang jadi tukang kumpul beling dan barang bekas, di lain waktu selengkapnya

Orang Aceh Naik Haji via Laut, Mungkinkah?

OPINI | 05 September 2012 | 03:42 Dibaca: 523   Komentar: 3   1

www.tribunnews.com

Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf mewacanakan pergi haji melalui kapal laut sejenis Star Cruise. Ongkos melalui kapal ini jauh lebih murah dibandingkan menggunakan pesawat terbang, katanya kepada Serambinews (http://www.tribunnews.com/2012/09/04/wagub-aceh-wacanakan-haji-dengan-kapal-pesiar).

Buat saya pribadi, inilah salah satu terobosan seorang pemimpin yang tidak terpaku pada pakem dan protokol yang sudah berlaku selama ini, mengingat penyelenggaraan haji di Indonesia selain sangat mahal juga sarat masalah. Mulai dari proses pemberangkatan, penantian yang memerlukan waktu lebih dari 10 tahun, hingga persoalan-persoalan setelah sampai di tanah suci mulai dari tempat tinggal konsumsi dan lain-lain.

Kompleksnya persoalan haji di Indonesia tentunya tidak terlepas dari ketidakbecusan Kementerian Agama dalam mengurusnya. Kristalisasi birokrasi yang korup dalam kementerian itu menjadikan orang Indonesia harus menanti lebih dari 10 tahun untuk dapat berangkat haji. Wacana yang diangkat oleh Wagub Aceh tersebut bisa jadi dapat mengatasi salah satu persoalan yaitu tingginya harga/biaya naik haji di Indonesia. Namun demikian, wacana yang baik tersebut diharapkan tidak hanya menjadi sekedar wacana tanpa proses pelaksanaan koordinasi dengan kementerian agama. Selain alternatif angkutan berbiaya lebih murah, juga perluanya penambahan kuota haji bagi Indonesia. Hal inilah yang harus didorong terus menerus oleh Pemerintah Indonesia melalui kementerian agama kepada Pemerintah Arab Saudi.

Wacana via laut ini juga bukan tanpa persoalan, dimana waktu tempuh dari Aceh ke Mekkah yang memerlukan 21 hari perjalanan, artinya pulang-pergi 42 hari. Belum lagi apabila terdapat jamaah yang meninggal dunia selama perjalanan. Bagaimana tata cara evakuasi dan lain-lainnya. Namun demikian dari persoalan-persoalan yang demikian banyak itu, wacana Wagub Aceh ini perlu diapresiasi dan dilanjutkan dengan prosesnya secara tehnis, dimana alternatif pemberangkatan haji adalah hal logis yang bisa saja dilaksanakan di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum begitu membaik.

SW

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Revolusi dari Desa di Perbatasan …

Pepih Nugraha | | 23 October 2014 | 12:52

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | | 23 October 2014 | 09:45

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Pertolongan Kecelakaan yang Tepat …

M. Fachreza Ardiant... | | 23 October 2014 | 10:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 6 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 7 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 8 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 8 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 7 jam lalu

Menunggu Hasil Seleksi Dirut PDAM Kota …

Panji Kusuma | 7 jam lalu

Penghubung Komisi Yudisial Jawa Tengah …

Muhammad Farhan | 8 jam lalu

‘Jokowi Efect’ Nggak Ngefek, …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Kisah Lebai Malang Nan Bimbang …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: