Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Muhammad Sa'du

Menghadapi hidup dengan apa adanya

PNS Pensiun, Beri Pesangon Bukan Gaji Pensiunan

HL | 01 August 2012 | 14:50 Dibaca: 15028   Komentar: 38   6

1343802302408658442

Ilustrasi/Admin (KOMPAS/Dwi Bayu Radius)

Meneruskan tulisan Kompasioner Eko Prasetyo yang menulis tentang PNS, Beban Negara, Dan Profesionalitas disebutkan ada 130 ribu pensiunan PNS dengan tanggungan anggaran Rp 60 T atau sepertiga belanja pegawai di APBN. Sebuah jumlah yang sangat fenomenal.

Beban ini akan terus menggelayut dan bertambah besar manakala tiap tahunnya pemerintah selalu menaikkan anggaran gaji PNS maupun pensiunan sekitar 5 - 10 persen dari gaji pokok. Entah sampai kapan negara akan terus menanggung beban gaji atas pegawai yang sudah tak berkontribusi tersebut.

Okelah bila mereka dulu pernah berjasa dan pada gajinya saat aktif juga dipotong untuk pensiun. Tapi bukankah selayaknya hal ini dievaluasi. Saya tidak cukup yakin bila potongan gaji selama bekerja jumlahnya sama atau bahkan lebih besar dari pensiun. Apakah ketika melebihi potongan gaji saat aktif otomatis pensiunannya berhenti? tidak bukan.

Jumlah warga miskin dinegara ini terus saja naik bahkan sudah lebih diatas 40 juta jiwa. Belum lagi ditiap daerah hampir semua pemerintah daerah berteriak kekurangan pegawai. Termasuk juga gaji pegawai pada golongan terendah tidak manusiawi. Dua tahun belakangan dilakukan moratorium perekrutan PNS sehingga beban gaji tidak bertambah.

Dari berbagai strategi yang dilakukan pemerintah rupanya opsi pemberian pesangon bagi PNS yang pensiun tak pernah terlontar. Padahal di swasta hal ini sudah jamak dilakukan. Pemberian pesangonpun tidak asal-asalan namun cukup besar karena memakai rumusan yang jelas. Bila dikalkulasi, sebenarnya pemberian pesangon akan jauh lebih murah dan manusiawi.

Sebab pesangon yang besar juga akan mendorong pensiunan untuk membuka usaha. Hal inilah yang diharapkan menimbulkan efek positif bagi perekonomian negara. Bisa dihitung berapa milyar yang bisa diefisienkan dari hal ini. Pertanyaannya, beranikah SBY memutuskan hal ini?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jalan-Jalan Cantik ke Jepang ala Beauty …

Wardah Fajri | | 18 September 2014 | 10:16

Bapak Diberi Tenggang Tiga Kali 24 Jam untuk …

Posma Siahaan | | 18 September 2014 | 06:03

Bima Arya Sukses Menghijaukan Jalanan Kota …

Masykur A. Baddal | | 18 September 2014 | 07:20

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | | 18 September 2014 | 01:35

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14


TRENDING ARTICLES

Kejahatan di Jalan Raya, Picu Trauma …

Muhammad | 4 jam lalu

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | 9 jam lalu

Pilkada Langsung; Menabrak Dasar Negara?! …

Bem Simpaka | 10 jam lalu

Bukti, Koalisi Merah Putih Bukan Wakil …

Giri Lumakto | 12 jam lalu

Takut Prabowo, Jokowi Batalkan Perampingan …

Avit Hidayat | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips Sederhana Menulis Buku agar Menarik …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 8 jam lalu

Turis Asing Suka Kawah Ijen! …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Bogor dan Bandung Bermasalah, Jakarta …

Felix | 8 jam lalu

Mudahnya Mengururs SIM tanpa Calo (Sebuah …

Okky Rizki Rohayat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: