Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Veronika Nainggolan

Baru selesai kuliah, sdg mengadu nasib di ibukota. Motto : "MENGAMATI lalu MENULIS" untuk KEDAMAIAN NEGERI......

Geliat Pembangunan Kampung di Tanah Papua

REP | 24 July 2012 | 05:56 Dibaca: 528   Komentar: 2   1

13430659402144703998

Sekretaris Kampung di Papua diangkat menjadi PNS. Mereka diharapkan dapat menggeliatkan pembangunan di kampung-kampung di Papua. Foto : pemkam.papua.go.id

Membangun Papua mesti dimulai dari kampung-kampung. Resep ini telah terumuskan secara tegas dalam Program RESPEK (Rencana Strategis Pembangunan Kampung) yang dicanangkan mantan Gubernur Papua, Barnabas Suebu dalam lima tahun terakhir masa jabatannya.

Program ini sedikit banyak telah membangkitkan spirit warga Papua di kampung-kampung untuk berubah. Dengan dana Respek mulai dari 100 juta hingga 200 juta per kampung, sejumlah kegiatan tampak menggeliat. Banyak aspek telah tersentuh untuk dikembangkan, baik aspek kesehatan, pendidikan, ekonomi, pertanian, perikanan, hingga pemberdayaan perempuan.

Di Kabupaten Sarmi misalnya, ada kampung yang menggunakan dana Respek untuk pengadaan sepeda bagi anak sekolah. Di Kampung Ifar Kecil ada yang menggunakan dana untuk membangun bak dan pipanisasi dalam rangka air bersih, sementara di Kampung Maryam Kabupaten Boven Digoel, warga menggunakan dana Respek untuk membangun jalan, rumah dan pelabuhan kecil. Di wilayah pesisir, ada kampung yang menggunakan dana Respek untuk mengadakan transportasi laut. Intinya, warga membangun dengan swadaya sesuai dengan kebutuhan di kampungnya tersebut.

Bagi Pemprov dan Pemkab, dinamika pembangunan yang tengah terjadi di kampung-kampung itu, setidaknya telah mengubah pola pikir dan kinerja mereka untuk lebih fokus mengembangkan kampung-kampung. Pemerintah Kabupaten Merauke misalnya, tidak tanggung-tanggung telah menargetkan bahwa pada 2013 tidak ada lagi kampung-kampung di pedalaman yang terisolasi. Untuk tujuan itu, sejumlah ruas jalan darat tengah dikerjakan dan sarana telekomunikasi sedang dibangun hingga ke pedalaman.

Bupati Merauke, Romanus Mbaraka, di Merauke, Senin (23/7/2012) mengatakan, pembukaan dan perbaikan jalan-jalan itu untuk membuka akses ke kampung-kampung pedalaman, antara lain di Distrik Muting, Ulilin, dan Elikobel.

Romanus mengaku sudah memerintahkan Kepala Dinas Perhubungan Merauke, agar bus Damri membuka trayek hingga ke Muting (247 kilometer dari kota Merauke), untuk memberikan layanan transportasi umum bagi masyarakat di ketiga distrik itu.

“Sekarang kalau panen rambutan sudah bisa naik Damri dari Muting ke kota Merauke, bayar Rp 100.000,” ujar Romanus.

Selain itu, Pemkab Merauke akan menganggarkan Rp 20 miliar dalam APBD perubahan, untuk memperbaiki jalan Merauke-Jagebob. Selain itu, tahun 2013, pemkab akan membangun terminal umum di Distrik Tubang. Pemkab juga mendorong transportasi sungai hingga distrik pedalaman seperti Kaptel dan Animha.

Agustus tahun ini akan ada launching penggunaan telepon seluler dari distrik Kimaam , Wanam, Ta bonji, Tubang, Ngguti, Okaba, Ulilin, Elikobel, Kurik, Kaptel, Malind, Animha, Naukenjerai, dan Sota.

“Masyarakat sudah bisa pakai handphone. Sarana telekomunikasi dibangun sehingga sudah tidak ada lagi pedalaman,” katanya.

http://regional.kompas.com/read/2012/07/23/1653096/2013.Tidak.Ada.Kampung.Pedalaman

Untuk mengelola pembangunan di kampung-kampung, sejak tiga tahun lalu Pemprov Papua telah mengangkat Sekretarus Kampung menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ini sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2007 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pengangkatan Sekdes menjadi PNS.

Dengan kebijakan ini, ratusan tokoh kampung yang berijazah minimal Sekolah Menengah Pertama telah diangkat menjadi Sekretaris Kampung dan berstatus PNS. Di Kabupaten Merauke misalnya, belum lama ini Bupati setempat telah menyerahkan SK pengangkatan PNS bagi 134 Sekretaris Kampung.

Ada ribuan kampung di seluruh wilayah Papua. Maka sangatlah tepat pembangunan masyarakat dan wilayah difokuskan di kampung-kampung. Jika kampung-kampung semakin maju, dan masyarakatnya semakin sejahtera, niscaya keinginan sekelompok orang untuk memisahkan diri dari NKRI, dengan sendirinya akan luntur. Semoga……

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-Keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Plus Minus kalau Birokrat yang Jadi …

Shendy Adam | | 02 September 2014 | 10:03

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 6 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Agung Laksono Lanjutkan Warisan Kedokteran …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Mengenal Bunga Nasional Berbagai Negara di …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cemburu Bukan Represent Cinta …

Diana Wardani | 9 jam lalu

“Account Suspended @Kompasiana Diburu …

Tarjo Binangun | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: