Artikel

Birokrasi

Ichwan

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Saya adalah seorang software developer di bidang smart card dan microcontroller yang senang memperhatikan lingkungan dan berusaha memberikan saran agar lingkungan menjadi lebih baik.

Riset dalam Pemerintahan


OPINI | 22 February 2012 | 23:28 Dibaca: 37   Komentar: 0   Nihil

Salah satu masalah di ibukota adalah kemacetan lalu lintas. Kemacetan saat ini begitu merepotkan pengguna jalan dan membuang waktu serta biaya yang tidak sedikit.

Tulisan ini adalah opini penulis pribadi dan berharap dapat menjadi pertimbangan bagi para pengambil kebijakan di Jakarta khusunya di bidang transportasi jalan raya.

Sudah kita ketahui bersama bahwa kemacetan di jakarta terjadi pada saat puncak banyaknya kendaraan yaitu saat pagi dan sore hingga malam, dan kemacetan akan semakin parah jika terjadi hujan pada saat puncak kemacetan.

Tiap hari saya menempuh perjalanan pulang pergi dengan jarak kurang lebih 45 km dari tempat tinggal di ujung jakarta barat ke tempat bekerja di daerah sudirman. Perjalanan ini saya tempuh dengan menggunakan sepeda motor sebagai pilihan di antara moda transportasi yang tersedia. Penggunaan sepeda motor diambil dengan membandingkan waktu tempuh masing-masing moda transportasi dan efektifitasnya.

Selama perjalanan, saya sering mengamati dan berusaha menganalisa penyebab kemacetan. Ada beberapa titik kemacetan yang saya lewati di antaranya adalah :

  1. Jembatan Gantung, jalan Daan Mogot.
  2. Sebelum Fly Over Pesing, jalan Daan Mogot.
  3. Lampu Merah Pesing.
  4. Lampu Merah Roxy.

Memang penyebab kemacetan adalah banyaknya volume kendaraan yang lewat (seperti disampaikan pemerintah, yang dilanjutkan dengan keluhan kurangnya dana untuk menambah infra struktur jalan dsb) tetapi jika saja pemerintah mau menganalisa kemacetan dan melakukan riset banyak kemacetan yang dapat dikurangi.

Sebagai salah satu contoh hasil pengamatan saya adalah kemacetan di Jembatan gantung. Di daerah ini terjadi penyempitan lajur jalan raya dari 3 lajur menjadi 2 lajur. Banyak sekali pejalan kaki atau sepeda yang menyeberang jalan tidak menggunakan jembatan penyeberangan (karena jembatan penyeberangan [halte busway Jembatan Gantung] letaknya jauh dari lintasan penyeberangan pejalan kaki). Banyak angkutan umum yang berhenti untuk menunggu (bukan menaikkan atau menurunkan) penumpang, padahal jelas sekali tanda larangan berhenti terlihat. Kemacetan di daerah ini dapat dikurangin dengan menambah jembatan penyeberangan dan menindak tegas angkutan umum yang berhenti, selain itu dapat pula dilakukan penambahan lajur di samping jembatan (karena 1 lajur yang terpakai oleh busway tidak ada penggantinya)

Jika saja ada staf dari DLLAJR atau sudin PU yang menganalisa tiap titik kemacetan pasti akan ditemukan cara untuk mengurangi kemacetan. Dari pengamatan saya, hal yang menyebabkan kemacetan ternyata tidak rumit sehingga penanggulangannya saya rasa tidak terlalu merepotkan pemerintah.

Saya belum menemukan cara untuk dapat menyampaikan saran saya secara langsung ke pemerintah oleh karena itu saya mencoba melalui kompasiana dengan harapan ada pejabat pemerintah yang membaca (saya berharap mereka sedang menyerap aspirasi rakyat dengan membaca kompasian) sehingga saran saya dapat dicoba untuk diterapkan.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: