Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Raja Haji

Sebuah Perjuangan Kecil Untuk Melahirkan Kepemimpinan Nasional Yang Cerdas, Intelektual, Filosof, Cendikiawan. Karena Kebangkitan Sebuah selengkapnya

Transmigrasi Lokal

OPINI | 29 December 2011 | 07:23 Dibaca: 532   Komentar: 2   0

Saya berjalan ke berbagai daerah Indonesia termasuk daerah yang kaya sumber daya alam sekalipun seperti Aceh, Riau dan sebagainya menemukan banyak sekali orang miskin, lemah dan tidak mampu disana.

Kemiskinan bagaikan sebuah harta pusaka yang mereka warisi secara turun temurun tanpa henti. Keluarga yang dulunya memiliki se hektare tanah akan membagikan tanah itu kepada jumlah anak mereka yang ada. Tanah itu akan dibagi lagi kepada cucu yang jumlahnya akan bertambah, cicit dan seterusnya. Sehingga Tuan tanah dimasa Belanda bisa saja anak cucunya hanya memiliki tanah beberapa meter saja per orang saat ini karena pembagian yang banyak dan tidak bertambah itu.

Para pasangan muda yang baru nikah dan tidak memiliki tanah, tinggal dirumah mertua yang selalu bertengkar dengan saudara yang lain karena faktor perebutan rumah dan tanah pusaka. Tidak jarang berlaku pertengkaran bahkan pembunuhan antara saudara karena memperebutkan tanah pusaka itu.

Banyak orang miskin dan melarat di daerah tempat transmigran, mereka tidak punya rumah, nyewa, tidak ada kerja tetap, miskin. Sehingga program transmigrasi pemerintah pusat hanya ibarat falsafah melayu; kera di hutan disusukan, anak dipangkuan mati dalam pelukan. Atau kuman diseberang laut nampak, gajah dipelupuk mata tidak nampak.

Transmigrasi lokal akan lebih memamahi tanah tempat kelahirannya dari orang lain. Mereka akan menjaga tempat itu dengan sungguh-sungguh -tidak menjual tanah, rumah dan fasilitas dari pemerintah lainnya kepada orang lain dan kembali ke Jawa dengan tujuan bisa di transmigrasikan lagi dan seterusnya-

Berilah kepada transmigrasi lokal fasilitas seperti yang diberikan pemerintah (anggaran transmigrasi yang berjumlah triliyunan rupiah tanpa memberi manfaat pada bangsa dan negara selama ini) pada transimgrasi asal Jawa agar mereka bisa hidup dan bertani, beternak dan menjalani kehidupan biasa disana.

Transmigran lokal akan lebih paham dengan adat dan budaya setempat. Mereka memiliki agama dan sosial budaya, ekonomi lokal yang sama.

Orang Jawa susah berintegrasi dengan masyarakat lokal. Mereka masih totok dengan bahasa jawa yang tidak dipahami masyarakat lokal, agama, budaya an identitas Kejawaan lainnya.

Sejarah membuktikan bahwa transmigran yang didatangkan dari luar daerah –terutamanya dari pulau Jawa- banyak membawa masalah sosial, ekonomi, budaya dan agama bagi masyarakat lokal. Kasus Timika Di Irja, Tim-Tim, NTB, Maluku, Kalbar, Aceh, Kaltengsampit, mesuji dan ribuan kasus lainnya yang tidak di angkat oleh media telah berlaku di negara ini. Lihatlah kajian-kajian skripsi, tesis dan disertasi di perguruan tinggi yang banyak membicarakan tentang konflik ini. Semua itu adalah bom waktu, bagaikan api dalam sekam yang siap membakar kapan saja.

Bacalah google, yahoo dan bahan di internet lainnya dan tulis konflik transmigrasi, stop transmigrasi, hentikan transmigrasi dan sebagainya, ada jutaan bahan yang berbicara mengenainya.

Transmigrasi dari Jawa telah merusak hutan, eko sistem, lingkungan hidup diberbagai daerah selama ini. Pertimbangkanlah kembali kebijakan ini karena Pemerintah Indonesia bukan bekerja untuk kepentingan sekelompok suku kaum saja, tetapi bekerja dan digaji oleh rakyat untuk kemakmuran, kebahagiaan, ketentraman, kedamaian, kesejahteraan seluruh bumi Indonesia yang terdiri dari ratusan ribu pulau, ratusan suku bangsa dan bahasa.

Buat kajian, berikan modal, buat struktur program yang profesional dan CIPTAKAN TRANSMIGRASI LOKAL agar ia lebih mendatangkan manfaat dan kebaikan..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kejanggalan Hasil Laboratorium Klinik …

Wahyu Triasmara | | 19 September 2014 | 12:58

“Kita Nikah Yuk” Ternyata …

Samandayu | | 19 September 2014 | 08:02

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Seram tapi Keren, Makam Belanda di Kebun …

Mawan Sidarta | | 19 September 2014 | 11:04

Dicari: “Host” untuk …

Kompasiana | | 12 September 2014 | 16:01


TRENDING ARTICLES

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 14 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Lemahnya Sinergi BUMN Kita …

Yudhi Hertanto | 7 jam lalu

4 Hewan Paling Top Dalam Perpolitikan …

Hts S. | 8 jam lalu

Bantu Pertamina, Kenali Elpijimu, Pilih yang …

Vinny Ardita | 8 jam lalu

More than Satan Word …

Bowo Bagus | 9 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: