Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Nikolas Anova

Mahasiswa jurusan Statistika asal : Ponorogo, Jawa Timur.

Statistik : “Pupuk” Ampuh Demokrasi

OPINI | 16 September 2011 | 03:26 Dibaca: 138   Komentar: 0   1

Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahnya berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan). Juga biasa disebut pemerintahan dari, untuk, dan oleh rakyat. Saat ini, hampir semua negara menganut paham ini dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kita patut berbangga bahwa Indonesia adalah negara demokrasi terbesar kedua setelah Amerika Serikat.

Sedangkan, Statistik adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mengumpulkan, menyajikan, menganalisis, dan menginterpretasikan data. Dalam arti sempit, yang dimaksud statistik adalah data yang berupa angka/kuantitatif. Saat ini, statistik banyak dimanfaatkan pada berbagai bidang kehidupan. Statistik terutama berguna pada proses perencanaan dan pengevaluasian suatu obyek.

Statistik juga bisa disebut alat demokratisasi (mendemokrasikan). Bisa dikatakan bahwa eksistensi negara demokrasi dipengaruhi oleh kualitas data statistik yang mereka miliki. Hal itu didasari pada Soetjipto Wirosardjono (2007, Angka-Angka Berbicara). Beliau berpendapat bahwa data statistik (informasi numerik) itu lebih demokratis daripada informasi verbal. Misal, saat bupati melaporkan bahwa Kabupatennya mengalami peningkatan pendapatan daripada tahun lalu, informasi verbal itu akan tidak berkembang bila tidak disertai data numerik PDRB. Dengan adanya data numerik, pernyataan verbal bupati itu bisa saja disangkal atau sebaliknya makin dipercaya, dan masih banyak lagi tanggapan yang bisa terjadi. Bila hanya menyertakan informasi verbal saja, hal itu akan cenderung menuju kepada bentuk keotoriteran.

Dalam upaya memberdayakan iklim demokrasi, bisa dilakukan dengan makin meningkatkan kualitas data statistik yang lebih baik. Data statistik bisa diibaratkan “pupuk” bagi demokrasi. Bila kualitas “pupuk” itu bagus, maka pertumbuhan dan perkembangan iklim demokrasi akan subur. Tetapi apabila kualitasnya buruk, maka tumbuh kembang iklim demokrasi bisa saja terhambat atau bahkan bisa layu mati. Bisa saja iklim itu akan berubah menjadi bentuk keotoriteran.

Kita semua harus berusaha untuk mewujudkan data berkualitas di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS), dan lembaga survei lain harus terus meng-improve kualitas kerja saat proses pengumpulan, penyajian, penganalisisan data. SDM para pelaku statistik juga harus terus ditingkatkan. Rakyat juga harus lebih pro saat diamanahi sebagai responden. Selain itu, juga harus aktif dalam melaporkan data registrasi penduduk pada instansi terkait. Data registrasi di Indonesia memang masih banyak yang ambruradul. Tidak ketinggalan masyarakat statistik Indonesia juga harus menjadi “DPR” yang mumpuni bagi BPS.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 12 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 15 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 19 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 20 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: