Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Awaluddin Abdussalam

Epidemiologis. Sanitarian. "Mediocre".

PNS Brebes, Bibir Sumbing, dan MURI

OPINI | 06 July 2011 | 03:01 Dibaca: 279   Komentar: 5   0

Sadarkah Anda bahwa birokrasi bisa membunuh? (Jeff Imelt, CEO General Electric)

Sebuah ungkapan sinisme yang berlebihan? Ah, tidak juga! Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Penerbit Gramedia, Edisi Keempat, 2008) juga sudah menyatakan begitu. Birokrasi dapat diartikan sebagai (1) sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah yang berpegang pada hierarki dan jenjang jabatan (2) cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban, serta menurut tata aturan (adat, dan sebagainya) yang banyak liku-likunya, dan sebagainya.

Jadi tidak salah kalau ada yang berpendapat bahwa, birokrasi itu tambun, lamban, bahkan berbelit-belit. Ada ungkapan yang sangat terkenal ditujukan untuk para birokrat “Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?”. Pegawai Negeri Sipil (PNS), boleh juga disebut sebagai birokrat, akan menjadi efektif justru ketika keluar dari aturan-aturan mainstream dan berpikir out of the box. Ada sebuah pembelajaran yang sangat berarti dari para birokrat di Kabupaten Brebes yang bekerja di luar pakem. Artinya, para PNS pun bisa juga efektif, kalau saja mau.

Brebes, sebuah kabupaten di wilayah paling barat di jalur pantai utara (pantura) Provinsi Jawa Tengah, sedang bergeliat mengejar ketertinggalan. Kita mengenal Brebes sangat lambat dalam pencapaian indeks pembangunan manusia (IPM), sebagai tolok ukur paling mutakhir kinerja pembangunan suatu kabupaten/kota. IPM mengukur capaian suatu negara atau wilayah dalam tiga dimensi pembangunan, yaitu lamanya hidup, pengetahuan, dan standar kehidupan layak. Faktor lamanya hidup ditentukan oleh berhasil atau tidaknya pembangunan sektor kesehatan.

Bappeda Kabupaten Brebes (2007) telah menghitung angka harapan hidup sebesar 69,4 tahun, angka melek huruf sebesar 84,85%, rata-rata lama sekolah sebesar 5,5 tahun, dan pengeluaran perkapita riil sebesar Rp.625.370,- IPM kabupaten ini menduduki posisi paling buncit di antara 35 kabupaten/kota di wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Sementara tolok ukur terbaru, indeks pembangunan kesehatan masyarakat (IPKM), yang menggambarkan kemajuan pembangunan berbasis komunitas, secara nasional Kabupaten Brebes berada pada posisi ke 292 dari 440 kabupaten/kota. Tetapi tetap saja di tingkat Provinsi Jawa Tengah, IPKM Kabupaten Brebes berada pada peringkat paling bawah di antara 35 kabupaten/kota (Diseminasi Hasil Riset Kesehatan Dasar 2010 di Mataram, Nusa Tenggara Barat).

Dari dua indikator IPM dan IPKM itu saja, cukup membuat Bupati Brebes H Agung Widyantoro, SH, MSi., kemudian sangat berkepentingan untuk memberikan akses yang mudah bagi warganya dalam memperoleh layanan kesehatan.

Pelan tapi pasti beberapa masalah kesehatan berhasil diselesaikan dengan melibatkan berbagai pihak. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 17-18 Juni 2011 telah dilakukan operasi bibir sumbing terhadap sebanyak kurang lebih 140 orang di RSUD Brebes dari 161 orang pengunjung yang datang. Data penderita bibir sumbing di Kabupaten Brebes sebenarnya belum dapat dipastikan. Tetapi menurut data dari Tim Penggerak PKK Kabupaten Brebes disebutkan ada sekitar 314 penderita bibir sumbing, sedangkan data yang dihimpun puskesmas sebanyak 204 penderita bibir sumbing.

Kegiatan operasi bibir sumbing ini tentu saja terlaksana berkat kerjasama antara Tim Penggerak PKK Kabupaten Brebes, Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, RSUD Brebes, Yayasan/Rumah Sakit Permata Sari Semarang. Operasi bibir sumbing secara teknis dilakukan oleh para dokter spesialis bedah ternama dari Jakarta, Bandung, dan Semarang.

Tak pelak lagi, operasi bibir sumbing terhadap kurang lebih 140 penderita di Brebes menorehkan prestasi yang sangat berarti bagi Kabupaten Brebes dengan memperoleh Piagam Penghargaan yang ditandatangani oleh Jaya Suprana dari Museum Rekor - Dunia Indonesia (MURI) Nomor: 4949/R. MURI//VI/2011 yang dianugerahkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes atas rekor “Penyelenggara Pendukung Operasi Bibir Sumbing secara Gratis dengan Peserta Terbanyak”. Penganugerahan gelar MURI tersebut dilakukan di Pendopo Kabupaten Brebes pada Sabtu malam (18/06/11).

Sebenarnya masih ada birokrat yang bekerja dengan kompetitif dan berdasarkan prestasi (kinerja). Sekedar contoh, kerja inovatif dilakukan Puskesmas Losari Kabupaten Brebes yang berhasil mengembangkan Posyandu Gizi Buruk. Tidak ada instruksi dari atasan, bahkan ketika baru dimulai tanpa biaya sepeser pun, tetapi sekarang mampu menangani puluhan bayi dan balita yang menderita gizi buruk. Tidak mudah memang menumbuhkan jenis kepemimpinan seperti ini, yang mampu menerobos kebuntuan birokrasi (Suara Merdeka, 26/08/10).

Sampai saat ini, melekat sangat kuat keyakinan, bahwa birokrat sebagai kunci sebuah keberhasilan dalam pembangunan (baca: IPM). Walaupun tidak dapat dipungkiri begitu saja bahwa elemen masyarakat yang lain juga mempunyai peranan penting. Sehingga boleh jadi rekruitmen birokrat sebagai pejabat menjadi sangat penting dan tidak main-main.

“Keterbatasan” Brebes dapat dijawab dengan prestasi PNS yang sangat membanggakan di kancah nasional, walaupun tentu saja masih banyak “pekerjaan rumah” yang perlu dibenahi terutama yang berhubungan langsung dengan peningkatan IPM. Menjadi birokrat harus kompetitif dan mengedepankan prestasi, bukan justru malah “leda-lede”.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Transjakarta vs Kopaja AC, Pengguna Jasa …

Firda Puri Agustine | | 31 October 2014 | 12:36

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | | 30 October 2014 | 22:57

Juru Masak Rimba Papua Ini Pernah Melayani …

Eko Sulistyanto | | 31 October 2014 | 11:39

Green Bay dan Red Island Beach, Dua Pesona …

Endah Lestariati | | 31 October 2014 | 11:47

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 5 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 5 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 6 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 7 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Racun di Sudut Ruang Rumah Kita …

Akualib | 8 jam lalu

Potret Negeriku Saat Ini …

Surat Yasin | 8 jam lalu

Menyusun Anggaran Keuangan dan Menerapkannya …

Pakar Investasi | 8 jam lalu

Serendipity [3] …

Septi Yaning | 8 jam lalu

Akhh… …

Ando Ajo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: