
M Sya'roni Rofii, tengah menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di jogja. Blog pertamanya www.rofii-perspektif.blogspot.com tidak pernah begitu ia seriusi, hingga akhirnya bertemu Kompasiana yang begitu atraktif menurutnya dan memutuskan untuk menjadikan Kompasiana sebagai ladang baru bercocok tanam tulisan di dunia maya.
Dibaca: 553
Komentar: 5
1 dari 1 Kompasianer menilai menarik
Pak beye saat menerima buku visi indonesia 2030 oleh pak chaerul tanjung (ilustrasi/presidenri.go.id)
Rasa-rasanya bermimpi Indonesia masuk lima besar kekuatan ekonomi dunia 2030 masih terlalu jauh. Selain karena 2030 tinggal sembilan belas tahun lagi, tetapi yang tidak kalah penting adalah kenyataan hari ini dimana hiruk pikuk penegakan hukum belum juga memberikan pencerahan, apalagi jika disandingkan dengan ulah politisi yang cenderung memperkeruh suasana. Contoh kasusnya, setiap hari dan setiap kali ada kesempatan DPR selalu meminta presiden untuk bersikap tegas dalam upaya menegakkan hukum, giliran KPK hendak menegakkan hukum dengan menangkap sekitar 19 politisi dari kader parpol tadi, anggota parlemen justru kebakaran jenggot karena kader mereka ditangkap. Akibatnya, keesokan hari, sejumlah oknum parlemen menunjukkan watak aslinya ketika mengusir tamu yang diundangnya, yakni pimpinan KPK yang lima orang itu, mereka mencari-cari masalah dengan mengusir Bibid-Chandra dari ruang parlemen dengan tidak hormat dan tidak beretika–padahal parlemen kita sudah studi banding untuk urusan etika jauh-jauh ke Yunani, inikah hasilnya?
Visi Indonesia 2030 sebelumnya tidak pernah saya perhatikan secara serius karena sebelum ini ada Visi Indonesia 2015 di masa presiden SBY. Jadi mimpi-mimpi seperti itu saya anggap hanya angin lalu saja, sekedar bunga tidur. Atau seperti dongeng untuk mengantarkan anak- anak kecil agar tidurnya bisa terlelap. Apalagi dongeng itu diceritakan oleh pak beye yang sebelumnya mengalami krisis kepercayaan dengan cap “bohong” versi tokoh lintas agama.
Namun, visi itu saya perhatikan serius, kalau bisa diplototi agar tidak kehilangan pesan, menyimak penuh atensi, karena suasananya tadi malam jauh lebih hidup, karena disampaikan oleh orang yang tepat berbicara tentang itu, mereka adalah Renald Kasali, Jusman Syafii, Thee Kwan Gie, dan satu lagi pengusaha muda dalam program rutin “Economic Challenges” di stasiun Metro TV. Acara yang dipandu Suryopratomo itu diberi tema “Nostradamus Ekonomi Indonesia” memang menghadirkan para pemangku kepentingan di negeri ini.
Saya lantas mengecek kembali apa sebenarnya yang ingin dimimpikan Indonesia 2030, beberapa diantaranya adalah: menjadikan indonesia masuk dalam lima besar kekuatan ekonomi dunia, mentargetkan pertumbuhan ekonomi maksimal dengan jumlah penduduk yang banyak itu, mentargetkan 30 perusahaan tanah air masuk Fortune 500, memanfaatkan kekayaan alam secara efektif. Visi itu disertai langkah-langkah strategis dan bertahap.
Visi indonesia 2030 diusulkan oleh sejumlah pakar yang tergabung dalam Yayasan Indonesia Forum yang dipimpin oleh Chaerul Tanjung dan diisi sejumlah pakar dari berbagai lintas disiplin dengan target menekankan pada pentingnya inovasi untuk memajukan ekonomi Indonesia.
Sebetulnya, saya tidak sinis mendengar mimpi itu, justru bermimpi membuat kita bisa melangkah lebih jelas kemana arah tujuannya, tetapi tentu saja dengan sejumlah catatan. Di bagian awal tulisan ini disinggung persoalan penegakan hukum yang tak kunjung menenangkan kita, di sisi lain perilaku politisi yang tak kunjung dewasa. Dua isu ini bagi saya sangat mengganggu mimpi itu. Di masa lalu Bung Karno, Pak Harto juga memiliki mimpi di masanya, tetapi mimpi itu perlahan-lahan terkubur sendiri karena ulah anak bangsa sendiri: akar korupsi yang tidak pernah putuh dan hiruk pikuk politik kepentingan yang tidak pernah kita sukai.
Sejatinya mimpi kita untuk menjadi kekuatan baik di level Asia dan Dunia bisa lebih cepat, jika saja kita tidak terlena dan tidak terjatuh dalam lubang yang sama untuk kesekian kali tentunya di bawah komando tegas pak beye. Presiden SBY ibarat pilot dari sebuah pesawat yang hendak terbang ke angkasa, kita (baca: rakyatnya) adalah penumpang yang selalu mendukung jika itu untuk tujuan keselamatan penerbangan. Selamat Bermimpi!
Salam Kompasiana
M Sya’roni Rofii