Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Khussy Alfarisi

tidak ada yang kebetulan di dunia ini. semuanya terjadi dan tertulis dalam skenario-Nya.

NUPTK, Omong Kosong

REP | 27 January 2011 | 01:10 Dibaca: 2785   Komentar: 40   2

NUPTK. Apa sih?
Bagi anda yang bekerja di lingkungan pendidikan pasti sangat mengenalnya. NUPTK adalah Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

Kenapa kok Nomor Unik?
Karena nomor ini terdiri dari 16 digit di mana tiap orang pasti berbeda.

Siapa Pendidik dan Tenaga Kependidikan?
Pendidik di sini adalah Para Guru atau Pendidik Formal. Sedangkan Tenaga Kependidikan yaitu Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, Tenaga Perpustakaan, Tenaga Administrasi Sekolah, Tenaga Laboran. Baik PNS maupun Non PNS.

Fungsinya untuk apa?
Sebagaimana tercantum di website Kementerian Pendidikan Nasional, NUPTK berfungsi sebagai nomor identitas PTK yang berlaku secara nasional dan menjadi syarat dalam mengikuti berbagai program peningkatan mutu dan kesejahteraan PTK yang di programkan oleh Pemerintah/ Kemendiknas sesuai dengan UU No. 14 Tahun 2005.

Tetapi sejak beberapa tahun terakhir sejak mulai pendataan tahun 2006, fungsi NUPTK sudah bertambah. Sebagai salah satu syarat untuk Sertifikasi Profesi bagi Pendidik. Sertifikasi Profesi yang tentu saja berhubungan dengan uang. Tentu saja bagi Pendidik.

Bagaimana dengan Tenaga Kependidikan (selain Kepala Sekolah dan Pengawas), khususnya yang bekerja di sekolah-sekolah, NUPTK ini apa gunanya?
Itulah, yang sampai sekarang belum terjawab. Karena bagi Tenaga Kependidikan (selain KS dan Pengawas) khususnya di sekolah-sekolah, NUPTK sangat jarang bahkan hampir tidak pernah ada gunanya.

Jadilah, terkadang banyak teman-teman yang menjadi Tenaga Kependidikan cuma bisa bertanya-tanya. Untuk apa?

Padahal Tenaga Kependidikanlah (Tenaga Administrasi) yang bertugas mendata dari sekolah. Terkadang personil yang didata pun seenaknya. Pokoknya tau beres. Tidak mau mencoba mengisi format isian yang diperlukan. Kalau NUPTK tidak keluar, Tenaga Kependidikan (Tenaga Administrasi) yang diuring-uring. Dijadikan kambing hitam karena tidak bisa ikut Sertifikasi Profesi.

Kapan ya, ada Sertifikasi Profesi juga bagi Tenaga Kependidikan selain Kepala Sekolah dan Pengawas? Ataupun Program Peningkatan Mutu bagi mereka. Agar fungsi NUPTK bagi Tenaga Kependidikan (selain KS dan Pengawas) memang tidak hanya omong kosong belaka. Mungkin ada yang bisa menjawab?

Oia, saya sempat iseng bertanya pada salah satu guru yang sudah tersertifikasi. Apa sih NUPTK? Dia cuma bengong dan menjawab tidak mengerti. Saya tanya lagi, hafal ga NUPTK anda? Dia menggeleng.

Ah…. Tenaga Kependidikan (Tenaga Administrasi) emang bertugas ikut mengingat-ingat segala tetek bengek sebagian Tenaga Pendidik yang tidak mau peduli dengan dirinya sendiri. Mulai dari Pangkat, Golongan, Jabatan bahkan NIP terbaru. Dan sekarang ditambah NUPTK. Tenaga Kependidikan (membicarakan diri sendiri), terimalah nasibmu! :(

*ngintip dikit di portal Kemendiknas RI dan mencoba merasakan apa yang dirasakan teman-teman yang di belakang layar.

SEMANGAT

26012011

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

10 Tanggapan Kompasianer Terhadap Pernikahan …

Kompasiana | | 25 October 2014 | 15:53

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 14 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Resep Kerupuk Seblak Kuah …

Dina Purnama Sari | 8 jam lalu

“Sakitnya Tuwh di Sini, di …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Kabinet Stabilo …

Gunawan Wibisono | 8 jam lalu

Sofyan Djalil dan Konsep yang Belum Tuntas …

Edy Mulyadi | 8 jam lalu

Dikelilingi Nenek-nenek Modis di Seoul, …

Posma Siahaan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: