Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Andi Ansyori

selalu ingin belajar, bersahabat, menambah pengetahuan " Tidak ada salahnya baik dengan orang " dan selengkapnya

Tahanan dipaksa makan kotoran manusia “

REP | 05 January 2011 | 03:56 Dibaca: 496   Komentar: 9   1

“ Wah wah….tahanan dipaksa makan kotoran manusia “ Ujar Zulkifli, geram ketika membaca headline salah harian local Radar Lampung, terbitan tangal 3 juari 2011. “ Oknum pegawai Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II B Kotaburni, Lampung Utara, kembali diduga bertindak tidak manusiawi. Kali ini bahkan tidak hanya menyiksa tahanan. Oknum pegawai rutan bernama Ihsan juga memaksa Ponidi alias Dul (35), warga Desa Oganlima, Kecamatan Abung Barat, Lampung Utara , agar memakan kotoran manusia saat sarapan pagi. Hal itu dilakukan Ihsan di dalam rutan pada Jurnat (31/12/2010) lalu pukul 09.30 WIB.

“Peristiwa tersebut dilaporkan ke Mapolres Lampura oleh Astana Isnawati (23), istri Ponidi, Sabtu (1/1) pukul 11.00 WIB. “ Itu sesuai bukti laporan Nomor: LP/08/B/l/201 I /Polda Lampung SPK. RES W tertanggal I lanuari 2011.” tambah Zulkifli
Menurut ceritera isteri Ponidi, Astana Isnawati , Pagi kelam itu, ketika Ponidi tengah sarapan . Tiba -tiba datanglah Ihsan, lalu menariknya ke luar sel. Setelah di luar sel, tanpa alasan yang jelas, Ihsan langsung menendang perut Ponidi hingga tersungkur. Tak puas menendang, Ihsan membawa Ponidi ke belakang sel. Di sana, Ihsan memaksa Ponidi memakan kotoran manusia. Ponidi sempat menolak. Tetapi, Ihsan melempar¬nya dengan batu hingga mengenai lehemya. “ Dalam kondisi ketakutan, akhimya suami saya terpaksa memakan kotoran manusia itu. “ ujar Isnawati dengan berurai air mata.

Ditambahkan, sebelum peristiwa penyiksaan itu terjadi, Ihsan pernah meminta uang kepadanya melalui handphone (HP) sebesar Rp500 ribu. Alasannya, uang tersebut untuk membayar agar suaminya dapat bekerja di taman dalam rutan. Namun karena tidak memiliki uang, ia tidak memenuhi permintaan itu. “ Darimana saya memiliki uang sebesar itu. Sejak suami saya di penjara, makan saja susah. Untung saja rumah orang tua saya dekat. Jadi kalau anak saya mau nyusu, saya minta ke sana;” ‘ungkap ibu satu anak ini.
Atas kejadian itu, dirinya meminta kepada pihak-pihak terkait untuk memberikan perlindungan terhadap ia dan anaknya. Selain itu, ia juga meminta keadilan atas spa yang telah menimpa suaminya.
Dihubungi terpisah, Kapolsek Bukitkernuning Kompol Sunaryoto mewakili Kapolres Lampura AKBP Lukas Akbar Abriari membenarkan Ponidi alias Dul adalah tahanannya yang dititipkan di rutan. “Ponidi merupakan tersangka kasus curat. Tersangka kami titipkan di rutan sejak 11 December 2010 dan mass tahanannya sudah kami perpan¬jang;’ terang Sunaryoto.

“Suami saya kan sedang menjalani tahanan sesuai hukum yang ada. Tetapi kok suami saya disiksa tidak manusiawi seperti ini. Saya mohon perlindungan dan keadilan dalam masalah ini,” tutur Astana.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: