Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Sigit Priyadi

Padang rumput hijau, sepi, bersih, sapi merumput, segar, windmill, tubuh basah oleh keringat.

Jalur ‘Neraka’ Cileungsi

OPINI | 08 December 2010 | 02:30 Dibaca: 572   Komentar: 6   1

12917751921206494519

Ilustrasi: penulis. 7 Desember 2010.

Dua belas tahun sudah, saya lalu-lalang melewati jalan raya Cileungsi - Jonggol. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di wilayah yang terletak di sisi tenggara dari Jakarta ini, situasinya hingga saat ini tidak banyak berubah. Perbedaan yang paling kelihatan hanya berupa kepadatan lalu-lintas yang semakin bertambah.

Yang paling menyedihkan adalah kondisi jalan yang menghubungkan antara kecamatan Cileungsi dan kecamatan Jonggol, sejauh lebih kurang 15 kilometer.  Terutama antara pusat kota kecamatan Cileungsi hingga kilometer ke- 8. Ketiadaan saluran drainase di tepi jalan telah membuat jalan  selebar sekitar 8 meter  tersebut sering rusak, berlubang-lubang, akibat genangan air dan lindasan berbagai jenis kendaraan berat dan ringan yang melintasinya.  Lebar jalanpun terasa semakin sempit pada saat semua jenis kendaraan berjubel, berkerumun, pada pagi, siang, dan malam hari.

Semua jenis kendaraan  yang berjumlah ribuan setiap hari melintasi jalan tersebut. Jenis-jenis kendaraan itu adalah:

1.      Sepeda motor:

Bila dihitung maka jumlah sepeda motor ini mungkin ribuan, sebanding dengan pertumbuhan perumahan-perumahan baru di sepanjang jalan ini, ditambah oleh naiknya daya beli dan tuntutan ‘mode’ bagi remaja-remaja perempuan yang bergegas ingin segera memiliki motor sendiri, terutama jenis ‘matic’.

2.      Mobil:

Serupa dengan pertumbuhan motor, kendaraan roda empat inipun semakin bertambah jumlahnya, model-model terbaru yang menawan semakin memancing penduduk dan warga perumahan yang ‘mampu’, untuk segera membelinya.

3.      Angkot.

4.      Truk Pengangkut Pasir:

Jenis truk ini ada dua macam, yaitu: yang beroda 6 dan beroda 10. Kedua truk ini merupakan ‘raja’ yang menguasai jalur jalan tersebut. Setiap hari truk-truk pasir berjalan hilir-mudik membawa pasir untuk ditumpahkan di sepanjang tepi jalan, yang merupakan area penjualan pasir oleh penduduk asli di wilayah itu. Bila ada antrian panjang kendaraan yang berjalan perlahan, bisa dipastikan di ujung terdepan pasti sedang berjalan sebuah truk pengangkut pasir yang berjalan terseok-seok dengan kecepatan 10 Kilometer perjam. Kadang-kadang antrean kendaraan bisa berhenti cukup lama karena truk terhadang lubang-lubang jalan atau harus menepi untuk mengambil ancang-ancang masuk ke lautan lumpur tepi jalan yang menjadi lokasi   untuk menurunkan pasirnya. Bila sedang mengalami nasib ‘apes’, maka kita harus sabar berjalan menepi ke kiri atau ke kanan, karena di tengah-tengah jalan sedang berhenti sebuah truk yang mogok karena ‘as roda’- nya patah akibat kelebihan beban, sehingga lalu-lintas akan terganggu.

5.      Truk Pengangkut Tanah:

Truk pengangkut tanah atau disebut juga ‘dump truk’ merupakan raksasa-raksasa yang hampir serupa dengan truk pengangkut pasir 10 roda, namun lebih menakutkan karena biasanya berjalan lebih cepat. Ciri-cirinya adalah kepulan debu di belakang truk saat berjalan dan kibaran tutup plastic yang menutupi tumpukan tanah yang menjulang di atas ‘bak’ truk. Bila proses pengambilan tanahnya berlangsung di musim hujan  maka jalan raya yang dilewatinya pasti akan penuh dengan ceceran tanah liat yang bila tersiram air hujan kondisinya sangat licin dan sangat becek,  sehingga membahayakan pengendara motor yang sedang melintas. Ceceran tanah itu bukan berasal dari tumpahan tanah yang diangkutnya, namun tanah itu melekat dan terbawa oleh alur-alur ban belakangnya, saat truk itu berjalan di jalanan tanah di perkampungan. Operasional truk-truk ini bersifat temporer, namun sewaktu-waktu akan muncul dari tepi jalan menerobos kampung, dengan membuat jalur baru menembus perkampungan. Konon beratus-ratus kubik tanah tersebut akan dikirim ke Bekasi untuk memenuhi pesanan guna menimbun dan meratakan area yang sangat luas, yang nantinya akan dibuat kompleks perumahan.

6.      Truk pengankut batu kali dan batu bata.

7.      Truk dan bus pengangkut anggota TNI:

Bus pengangkut anggota TNI biasanya berjalan berurutan dengan kecepatan tinggi dan selalu berusaha sesegera mungkin tiba di tujuan tanpa hambatan. Konsekuensinya rombongan bus ini biasanya selalu berjalan dengan posisi siap menyalib atau sebagian besar berjalan di tepi sebelah kanan.

8.      Truk pengangkut hasil niaga tujuan Bandung dan sekitarnya:

Truk ini sangat sering berjalan pada waktu sore hari, petang, atau malam hari. Kecepatannya pelan, karena beban berat yang diangkutnya. Truk-truk pengangkut barang perniagaan ini tergolong jenis truk 10 roda. Saya tidak tahu barang yang diangkut, karena tertutup terpal, kemungkinan semen.

9.      Bus pengangkut buruh pabrik.

10.  Forklift:

Kadang-kadang saya melihat forklift ukuran sedang dan ukuran besar berjalan agak kencang melintasi jalan ini.

Pada saat sekitar bulan Maret 2010, jalan ini diperbaiki dengan cor beton  sepanjang 2, 5 Kilometer yang terbagi  dalam beberapa ruas, masing-masing sekitar 100 meter hingga 300 meter. Setelah pengecoran kondisinya tetap belum memuaskan, karena genangan air setelah turun hujan telah merusak ujung jalan yang dicor. Genangan air itu terjadi karena perbedaan ketinggian  antara jalan aspal yang lama dengan jalan hasil pengecoran, sehingga lama-kelamaan terciptalah kubangan air yang bercampur tanah. Perbaikan telah berulang-ulang dilakukan dengan mengaspal atau hanya sekedar menuang split, namun usia pakainya  hanya berkisar seminggu, kemudian hancur lagi.

Sudah menjadi kodrat bahwa Bogor adalah kota yang memiliki curah hujan paling tinggi se Indonesia, namun pembangunan dan pemeliharaan jalan di wilayah itu sangat tidak sebanding dengan besarnya luberan air akibat tingginya curah hujan. Bisa diibaratkan perjalanan di ruas jalan Cileungsi merupakan perjalanan melewati ‘neraka’. Namun saya sering tertawa dalam hati bila melihat gadis-gadis remaja berboncengan dengan dandanan ‘modis’, bedak tebal, mengendarai sepeda motor ‘matic’-nya, tanpa mengenakan helmet pelindung kepala, tanpa jaket, tanpa masker, harus berjalan di belakang deretan truk, diliputi kepulan debu tanah dan asap knalpot, pada waktu siang hari yang panas menyengat.

Bagi saya, yang paling menyiksa adalah bila pulang kerja pada malam hari, turun hujan deras, jalanan penuh ceceran tanah, sedangkan lampu penerangan jalan sejak lama tidak pernah menyala utuh, genangan air terjadi di mana-mana sepanjang jalur tersebut. Kalau demikian maka saya hanya membayangkan ruas jalan ini terletak di daerah Kalimantan yang jauh dari ibukota Jakarta.

Cileungsi, 7 Desember 2010.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Yuk Kenali Serba-serbi Njagong …

Giri Lumakto | | 01 August 2014 | 23:14

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

“Tak Sempurna Hanya Tanpa …

Jarjis Fadri | | 31 July 2014 | 08:41

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Koalisi Merah Putih Tetaplah Merah Putih, …

Hanny Setiawan | 11 jam lalu

Jokowi Belum Dilantik, PKB Sudah Nagih Jatah …

Ikhlash Hasan | 11 jam lalu

Libur Lebaran, Bertemu Bule dan Supir Isteri …

Hendry Sianturi | 16 jam lalu

Membuat Tanda Salib di Pusara Ir. Soekarno …

Kosmas Lawa Bagho | 16 jam lalu

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: