Artikel

Birokrasi

Elisa

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Ayah asal Maluku, Ibu asal Manado, lahir di Hong Kong. Pernah merasakan hidup nomaden-pindah ke Medan, Hong Kong dan Tokyo- sekarang menetap di Jakarta dan bekerja di Ombudsman Republik Indonesia (Please welcome to follow me on twitter @ ebelima and obviously my blog http://diarisidebu.blogspot.com)

Belajar Memberikan Pelayanan dari Roti Unyil


OPINI | 16 October 2010 | 22:02 Dibaca: 348   Komentar: 1   Nihil

Roti Unyil

Roti Unyil

Setiap Saya pulang dari Bogor, Saya pasti membeli roti unyil sebagai oleh-oleh. Anggota keluarga di rumah lebih dari 5 orang termasuk orang-orang super kuat yang membantu kekurangan kami membersihkan rumah. Berapapun isi satu kotak yang Saya beli, 30 atau 40, roti-roti unyil itu pasti habis dalam hitungan jam.

Siapa yang tidak kenal roti unyil, penganan yang biasa dijadikan buah tangan dari Bogor. Bentuknya yang kecil, imut-imut, membuat orang ingin memakannya lebih dari satu. Di Bogor banyak toko kue yang menuliskan di papan “roti unyil” atau “roti mungil” untuk menarik pembeli. Namun menurut pengamatan Saya ada satu toko yang paling terkenal dengan roti unyilnya, yaitu toko “Venus”, yang terletak di jalan Pajajaran. Toko kue ini bisa dibilang paling terkenal dalam penjualan roti unyil dan pelanggannya pasti ratusan jumlahnya. Hal menarik yang Saya perhatikan adalah di balik nuansa tradisional, toko kue “Venus” tetap menempatkan pelanggan sebagai raja.

Pertama, kepuasan. Pelanggan dimanjakan dengan berbagai roti unyil: roti unyil dengan isi sosis, roti unyil lapis coklat dan keju, roti unyil lapis daging asap, roti unyil lapis jagung, roti unyil roklat isi krim vanilla, roti unyil lapis abon, roti unyil isi kelapa, roti unyil bertabur coklat meses, dan roti unyil lainnya. Cita rasa roti unyil disesuaikan dengan selera pasar yang sedang “happening“.

Kedua, kecepatan. Semua roti unyil ditaruh di dalam etalase besar dengan pelanggan di depan etalase dan pramusaji di sisi sebaliknya. Satu jenis roti unyil ditaruh dalam 2 atau 3 nampan yang ditaruh di sudut yang berbeda sehingga pelanggan yang berdiri di sudut yang berbeda dapat dilayani dengan baik oleh pramusaji. Pramusaji pun dikerahkan dalam jumlah yang banyak sehingga tidak ada pelanggan yang merasa dikecewakan.

Terakhir, kepercayaan. Selesai melayani, pramusaji akan membawa kotak yang kita pesan di kasir dan dia menyebutkan jumlah roti yang kita pesan. Apabila yang dilayani terlalu banyak, maka bukan tidak mungkin sang kasir melupakan jumlah yang disebutkan tadi dan dia meminta pelanggan untuk menyebutkan jumlahnya. Itu dilakukan dengan satu keyakinan bahwa dia memiliki kepercayaan pada pelanggannya yang terlebih dahulu memiliki kepercayaan atas cita rasa roti yang dijualnya.

Toko di jalan Pajajaran ternyata tempat baru bagi toko kue “Venus” yang dulunya berada di pasar Sukasari. Dulu Saya pernah diajak seorang teman untuk membeli roti unyil di sana. Suasananya sama dengan suasana toko kue di tempat yang baru, penuh sesak dengan pelanggan. Sekarang, toko kue di pasar Sukasari masih dijadikan toko kue menjual roti unyil tapi tentu dengan kepala yang berbeda: pemiliknya berbeda dan cita rasanya pun berbeda. Ketika Saya menginjakkan kaki di toko kue itu tadi siang, pengunjung toko hanya Saya seorang diri dan otomatis Saya memilih roti dengan cepat. Maksudnya, bukan karena Saya cepat dilayani, tapi ragam roti unyil yang dijual tidak banyak. Sehingga Saya cepat saja menentukan mana yang mau Saya beli. Melihat sepinya pengunjung, teman Saya yang warga Bogor mengatakan: “dia hanya meminjam feng shui“. Saya menerjemahkan ucapan teman Saya itu begini: “memberikan pelayanan tidak hanya sekedar meniru orang lain, tapi pemberian pelayanan haruslah dilakukan dengan sepenuh hati, tanpa mengharapkan balasan yang berlebihan dan menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi.” Selamat menikmati roti unyil, roti berbentuk imut-imut yang mengingatkan kita pada hal bernilai besar.  (ls, Jakarta, 16 Oktober 2010)

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: