Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Chika Sukahujan

lahir dihari pendidikan nasional 20 tahun yang laluu… sejak lahir hingga kini menetap dibumi pertiwi, cewe selengkapnya

Kenapa Saya Tak Boleh Jadi Polisi Hanya karena Tak Punya 10 Juta?

OPINI | 05 June 2010 | 04:50 Dibaca: 328   Komentar: 13   0

Sepupu saya, bernama Apri. Sejak kecil dia senang sekali melihat polisi yang “gagah”, “melindungi”, “mengayomi”, hingga polisi dijadikan satu-satunya cita-citanya. Selepas lulus SMA dengan bekal pas-pasan dia berangkat ke Bandung untuk mengikuti seleksi scaba ( bedanya scaba sama akpol apa sih?saya belum mengerti). Tahap demi tahap dia lalui dengan baik - jelas saja dia sudah mempersiapkan mental dan fisiknya jauh-jauh hari, jauh-jauh bulan bahkan jauh-jauh tahun. Di setiap tahap dia tak pernah kendor semangat, hingga akhirnya dia masuk pada tahap akhir yaitu PANTOHIR atau pantauan tahap akhir.

Di pantohir inilah hatinya berkecamuk, sejak salah seorang penguji bertanya pekerjaan orang tuanya, dan menawarkan diri akan meloloskan dia asal ada uang minimal 10juta. Jumlah uang dengan tujuh nol debelakang angka satu itu tentu saja membuatnya nanar, merasa tidak adil pada Tuhan yang tidak melahirkannya dari keluarga berada. Hanya karena uang sepuluh juta tidak dimiliki, dia gagal menjadi seorang scaba. Bapaknya yang merupakan paman saya hanya seorang pedagang mie ayam di pasar Legok, dan ibunya jualan gado-gado dan menjadi buruh cuci untuk menambah panghasilan keluarga. Meskipun kejadian tersebut bukan menimpa saya tapi bisa dirasakan betapa hidup di Zaman sekarang ini sangat tidak adil jika tidak punya uang. Padahal konon di UUD dijelaskan semua orang derajatnya sama dimata hukum, dan berhak atas pendidikan, dan penghidupan yang layak.

Saya pernah membaca riwayat pendidikan Komjen Susno Duadji, dahulu kala saat lulus SMA beliau mencari sekolah yang gratis, meskipun cita-cita beliau menjadi seorang penyuluh pertanian, tapi karena daftar di universitas tidak gratis, beliau lalu daftar akpol yang pada saat itu “BENAR-BENAR GRATIS”. Tapi sayang, saya pun sadar zaman berganti tahun keadaan sekarang hidup ditentukan oleh seberapa banyak uang yang kita miliki bukan?bahkan hanya untuk menjadi pintar guna memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Seandainya, masih ada kegratisan, saya yakin Apri dapat meraih cita-citanya.

tulisan ini saya peruntukan untuk sepupu saya Apri. Tetap semangat untuk Apri yang tahun ini akan mengikuti seleksi lagi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 7 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 8 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 9 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 10 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: