Back to Kompasiana
Artikel

Birokrasi

Chika Sukahujan

lahir dihari pendidikan nasional 20 tahun yang laluu… sejak lahir hingga kini menetap dibumi pertiwi, cewe selengkapnya

Kenapa Saya Tak Boleh Jadi Polisi Hanya karena Tak Punya 10 Juta?

OPINI | 05 June 2010 | 04:50 Dibaca: 330   Komentar: 13   0

Sepupu saya, bernama Apri. Sejak kecil dia senang sekali melihat polisi yang “gagah”, “melindungi”, “mengayomi”, hingga polisi dijadikan satu-satunya cita-citanya. Selepas lulus SMA dengan bekal pas-pasan dia berangkat ke Bandung untuk mengikuti seleksi scaba ( bedanya scaba sama akpol apa sih?saya belum mengerti). Tahap demi tahap dia lalui dengan baik - jelas saja dia sudah mempersiapkan mental dan fisiknya jauh-jauh hari, jauh-jauh bulan bahkan jauh-jauh tahun. Di setiap tahap dia tak pernah kendor semangat, hingga akhirnya dia masuk pada tahap akhir yaitu PANTOHIR atau pantauan tahap akhir.

Di pantohir inilah hatinya berkecamuk, sejak salah seorang penguji bertanya pekerjaan orang tuanya, dan menawarkan diri akan meloloskan dia asal ada uang minimal 10juta. Jumlah uang dengan tujuh nol debelakang angka satu itu tentu saja membuatnya nanar, merasa tidak adil pada Tuhan yang tidak melahirkannya dari keluarga berada. Hanya karena uang sepuluh juta tidak dimiliki, dia gagal menjadi seorang scaba. Bapaknya yang merupakan paman saya hanya seorang pedagang mie ayam di pasar Legok, dan ibunya jualan gado-gado dan menjadi buruh cuci untuk menambah panghasilan keluarga. Meskipun kejadian tersebut bukan menimpa saya tapi bisa dirasakan betapa hidup di Zaman sekarang ini sangat tidak adil jika tidak punya uang. Padahal konon di UUD dijelaskan semua orang derajatnya sama dimata hukum, dan berhak atas pendidikan, dan penghidupan yang layak.

Saya pernah membaca riwayat pendidikan Komjen Susno Duadji, dahulu kala saat lulus SMA beliau mencari sekolah yang gratis, meskipun cita-cita beliau menjadi seorang penyuluh pertanian, tapi karena daftar di universitas tidak gratis, beliau lalu daftar akpol yang pada saat itu “BENAR-BENAR GRATIS”. Tapi sayang, saya pun sadar zaman berganti tahun keadaan sekarang hidup ditentukan oleh seberapa banyak uang yang kita miliki bukan?bahkan hanya untuk menjadi pintar guna memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Seandainya, masih ada kegratisan, saya yakin Apri dapat meraih cita-citanya.

tulisan ini saya peruntukan untuk sepupu saya Apri. Tetap semangat untuk Apri yang tahun ini akan mengikuti seleksi lagi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Paser Baroe, Malioboronya Jakarta …

Nanang Diyanto | | 24 November 2014 | 14:09

Catatan Kompasianival: Lebih dari Sekadar …

Ratih Purnamasari | | 24 November 2014 | 13:17

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Pak Mendikbud: Guru Honorer Kerja Rodi, Guru …

Bang Nasr | | 24 November 2014 | 11:48

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 4 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 7 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 8 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Komunikasi Orang Tua dan Remaja Macet? …

Endah Soelistyowati | 8 jam lalu

Meladeni Tantangan Thamrin Sonata di …

Tarjum | 8 jam lalu

Mari Berpartisipasi Berbagi bersama Sanggar …

Singgih Swasono | 8 jam lalu

IKMASOR DIY Desak MOU Pendidikan dan …

Arkilaus Baho | 8 jam lalu

Tipe Kepemimpinan Jokowi-JK …

Gabriella Isabelle ... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: